Komitmen adalah janji. Janji yang seharusnya selalu ditepati. Tetapi seringkali komitmen hanya ilusi, hanya sebagai ucapan yang tidak diingat lagi.
Setiap insan pasti pernah berjanji, terhadap sesama atau diri sendiri. Ketika berjanji, kita melakukannya dengan sepenuh hati, tetapi tidak dipungkiri kita sering ingkar menepati.
Salah satu komitmen untuk terus memperbaiki diri adalah janji, janji kepada Ilahi untuk menjadi manusia yang berarti. Tapi seiring berjalannya waktu janji itu menjadi sunyi, entah pergi kemana suaranya tidak terdengar lagi.
Kembali bangkit adalah pilihan paling berarti, kembali pada komitmen dalam menjalani hari demi hari. Tidak ada kata terlambat untuk kembali mengarungi, memperlengkapi diri demi meraih mimpi.
Mari pandang kembali, komitmen pribadi yang pernah terucap walau dalam hati. Rajut kembali semangat berapi-api, berjuang dan melangkah dengan pasti. Yang paling utama selalu meminta pertolongan dari Sang Ilahi untuk mampu mewujudkan janji.
(Ditulis pada tanggal 21 Februari 2023 pukul 12.00, disimpan sebagai draft tetapi baru dipublikasikan hari ini)
Hari ini kembali membuat komitmen baru, untuk kembali
Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan (1 Korintus 1:5)
(Sumber gambar: www.abbaloveministries.org)
Iman
dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Lantas, bagaimana hubungan iman dan ilmu pengetahuan bagi orang Kristen?
Bagaimana seharusnya kita memosisikan ilmu pengetahuan di dalam hidup orang
yang percaya kepada Tuhan?
Sebagai
orang Kristen, iman percaya merupakan tindakan penyangkalan diri, hal inilah
yangmembuat orang percaya tidak lagi
mengandalkan kebijaksanaan dan kekuatannya sendiri, tetapi melekatkan diri pada
kuasa dari Tuhan yang telah menciptakan seluruh alam semesta dan segala isinya.
Di dalam Ibrani 11 : 1 tertulis dengan jelas bahwa “Iman adalah dasar dari
segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita
lihat.” Artinya iman itu adalah pondasi bagi setiap aktifitas kehidupan orang
Kristen, termasuk dalam mempelajari alam semesta ini melalui ilmu pengetahuan.
Adapun
ilmu pengetahuan adalah tindak lanjut dari akal pikiran manusia. Seperti kita
ketahui bahwa dengan kemajuan ilmu pengetahuan, manusia dapat semakin memahami
fenomena-fenomena alam yang ada di dunia. Berkat ilmu pengetahun lahirlah penemuan-penemuan
baru yang berkontribusi positif bagi kehidupan umat manusia, seperti
dihasilkannya berbagai macam obat untuk menyembuhkan penyakit, semakin mudahnya
dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi melalui teknologi modern yang sudah
ada, akses transportasi yang semakin cepat baik melalui darat, laut dan udara,
dan banyak lagi kemajuan di bidang lain yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan.
Ilmu
pengetahuan memang banyak memberikan kemudahan dan membantu untuk mewujudkan
keinginan manusia, tetapi ilmu pengetahuan tidak bisa dan tidak akan pernah
mampu menjawab semua pertanyaan kita akan alam semesta. Hanya Tuhan yang bisa
memuaskan dahaga atas setiap pertanyaan yang tidak bisa diberikan ilmu
pengetahuan kepada manusia. Karena Tuhanlah yang telah menjadikan segala
sesuatu yang ada, bahkan yang tidak terlihat oleh mata kita sekalipun, itu
adalah ciptaan Tuhan. Termasuk ilmu pengetahuan ada karena Tuhan yang sudah
sediakan, manusia hanya bertugas untuk menggali dan menemukannya.
Pemahaman
bahwa Tuhan adalan sumber ilmu pengetahuan, akan membuat kita memosisikan ilmu
pengetahun berdasarkan iman kepada Tuhan, seperti yang tertulis di Amsal 1 : 7a
menyatakan bahwa “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan”. Setiap orang
yang ingin memiliki pengetahuan hendaknya memulainya dengan beriman kepada
Tuhan. Hal ini menegaskan bahwa bagi orang percaya, iman dan ilmu pengetahuan
tidak bertentangan, tetapi memiliki keterkaitan yang sangat erat, yakni iman
adalah dasar (awal) dari ilmu pengetahuan.
Semakin
mendalami ilmu pengetahuan, akan membuat kita semakin menyadari keagungan dan
kemahakuasaan Tuhan, kita akan semakin melihat kebesaran dan luar biasanya
hikmat dan kebijaksanaan-Nya yang tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia.
Hal inilah yang dinyatakan oleh James Prescott Joule, seorang ilmuwan fisika
perumus Hukum Kekekalan Energi dari Inggris. Joule yang terkenal akan kesabaran
dan kerendahan hatinya ini menyatakan bahwa “Keteraturan terlihat jelas di alam
semesta, seluruh sistem, bagaimanapun rumitnya, berjalan lancar dan serasi.
Karena seluruhnya diatur oleh kedaulatan Allah. Setelah mengetahui dan mematuhi
kehendak Allah, seharusnya tujuan kita berikutnya adalah mengenal kearifan,
kekuasaan serta kebaikan-Nya sebagaimana terlihat dari karya-Nya”.
Louis
Pasteur, seorang ahli Bakteriologi, pencetus Hukum Biogenesis, Pasteurisasi,
Vaksinasi dan Imunisasi asal Prancis juga menyatakan imannya kepada Tuhan.
Tokoh yang menentang teori Evolusi ini mengatakan “Semakin saya mempelajari
alam, semakin saya mengagumi karya Sang Pencipta, ilmu pengetahuan membawa
manusia lebih dekat kepada Allah”. Sebagai seorang ilmuan, Pasteur percaya
kepada Tuhan sebagai Pencipta segala makhluk hidup. Semasa hidupnya, ia memiliki
kerinduan yang sangat besar menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang,
salah satunya dengan menggunakan ilmu
pengetahuan yang dimilikinya untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit.
Dari
uraikan di atas, jelaslah bahwa iman dan ilmu pengetahuan merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ibarat sebuah pohon, iman adalah akarnya,
llmu adalah batang dan ranting-ranting pohon yang akan menghasilkan buah. Iman
menjadi dasar dari ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahunan akan memberikan
berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Dengan pemahaman ini, harapannya akan
mendorong kita untuk semakin bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu pengetahuan
dengan berlandaskan iman kepada Allah. Dan akhirnya, ilmu pengetahuan itu akan
menjadi media bagi kita untuk menjadi berkat, demi kemuliaan nama Tuhan. Amin.
Menciptakan Budaya Positif di di SMPN 2 Dolok Sigompulon
Budaya atau kultur adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi dan diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sedangkan Budaya positif adalah suatu pembiasaan yang bernilai positif, di dalamnya mengandung sejumlah kegiatan yang mampu menumbuhkan karakter yang baik. Budaya positif di sekolah sangat perlu dibangun karena dengan adanya budaya positif di sekolah akan membentuk peserta didik yang berkarakter dan mampu untuk menghadapi masa depan.
Budaya positif adalah suatu pembiasaan yang bernilai positif, di dalamnya berisi sejumlah kegiatan yang mampu menumbuhkan karakter Murid. Untuk mewujudkan budaya positif harus dilakukan sejak dini mengingat dalam prosesnya membutuhkan waktu yang lama dan konsisten dari setiap stakeholder yang ada. Sebagai calon guru penggerak, tentu memiliki peran yang besar dalam mewujudkan disiplin positif, baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah.
Di lingkungan sekolah, guru dapat menerapkan budaya positif seperti bekerja sama dengan rekan sejawat, berinteraksi secara akrab dengan peserta didik, menerapkan sikap disiplin dan bertanggung jawab serta menjadi teladan bagi peserta didik. Sedangkan di lingkungan kelas, guru dapat menumbuhkan disiplin positif yang dimulai dengan membuat keyakinan kelas.
Sebagai aksi nyata modul 1.4. penulis melakukan pengimbasan kepada rekan sejawat mengenai "Budaya Positif" yang didapatkannya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak khususnya dari Modul 1.4. Kegiatan ini diikuti oleh Kepala sekolah SMPN 2 Dolok Sigompulon, Bapak H.Mhd.Ramli Ritonga, S.Pd., Wakasek bidang Kurikulum, Bapak Alamsyah Daulay, S.Pd. beserta dewan guru lainnya.
Untuk membentuk budaya positif, sangat diharapkan peran guru. Karena guru merupakan kunci utama bagaimana disiplin positif bisa tumbuh dan menjadi budaya di sekolah. Karena itu diperlukan perubahan paradigma belajar para guru. Salah satunya adalah perubahan cara berpikir dari stimulus respon menjadi teori kontrol yang dikemukakan oleh Stephen R.Covey seperti yang dijelaskan di tabel berikut:
Guru diharapkan memahami bahwa pola pikir guru bisa mengontrol murid sepenuhnya adalah salah, karena peserta didiklah yang mengontrol dirinya sendiri, sehingga diperlukan pembelajaran yang berpihak pada murid. Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan
ada 3 alasan motivasi perilaku manusia:
1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Pada tingkatan ini peserta didik akan melakukan sesuatu karena takut dihukum, sehingga motivasinya bersifat negatif. Adapun motivasi ini tidak akan bertahan lama.
2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku
untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Pada tingkatan ini, motivasi peserta didik akan hilang ketika imbalan atau hadiah tidak ada lagi.
3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri
sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. (Motivasi intrinsik). Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang
seperti apa bila saya melakukannya?. Mereka termasuk peserta didik melakukan sesuatu karena
nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena
mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini
tersebut. Ini adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin
positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan
eksternal.
Guru diharapkan juga memahami bahwa setiap manusia termasuk peserta didik memiliki 5 Kebutuhan Dasar, yakni:
1. Kebutuhan Bertahan Hidup (Survival). Hal ini bersifat fisiologis seperti kesehatan, rumah, dan makan.
Komponen psikologisnya adalah merasa aman.
2. Kebutuhan akan Cinta dan Kasih Sayang (Love and Belonging). Ini disebut dengan kebutuhan psikologis, yang meliputi kebutuhan akan
koneksi sosial, memberi dan menerima kasih sayang, dan merasa menjadi bagian
atau tergabung dengan sebuah kelompok.
3. Kebutuhan akan Kebebasan (Freedom). Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kemandirian, memiliki pilihan
untuk mengatur hidupnya sendiri. Pada anak-anak, biasanya ingin banyak
bergerak, mengetahui hal baru, dan tidak ingin dipengaruhi orang lain
4. Kebutuhan mendapatkan Kesenangan (Fun). Hal ini membutuhkan rasa gembira, tertawa, dan bermain. Anak-anak
biasanya ingin menikmati apa yang mereka lakukan. Jika melakukan yang
disukainya, anak-anak bisa berkonsentrasi serius.
5. Kebutuhan akan Kekuasaan (Power). Dalam hal ini biasanya orang ingin dianggap berharga, mampu membuat
perbedaan, mendapat pengakuan orang lain, dan dihormati. Anak-anak yang seperti
ini biasanya ingin menjadi pemimpin.
Dalam hal ini ternyata melaksanakan pembelajaran di sekolah atau di kelas hendaknya mempertimbangkan 5 kebutuhan dasar di atas.
Adapun dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh guru, ada lima posisi kontrol Guru, yaitu:
1. Penghukum.
Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal.
2. Pembuat merasa
bersalah. Pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut.
yang biasa dilakukan pembuat merasa bersalah biasanya berceramah,
menunjukkan kekecewaan mendalam
3. Teman. Guru
pada posisi sebagai teman tidak akan menyakiti murid, namun selalu
berupaya mengontrol murid melalui pendekatan persuasi
4. Pemantau.
Guru pada posisi ini biasanya selalu mengawasi atau memantau muridnya yang
berpatokan pada catatan atau kesepakatan yang sudah disetujui. yang biasa
dilakukan posisi sebagai pemantau yaitu memantau, menghitung dan mengukur
kedisiplinan murid.
5. Manager. Guru
pada posisi ini biasanya posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama
dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya,
mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.
Yang dilakukan guru pada posisi manager biasanya mengajukan
pertanyaan-pertanyaan terkait nilai kebajikan yang telah diyakininya, atau
pertanyaan yang berkaitan dengan solusi yang ditempuh berkaitan dengan
pelanggaran tata terib.
Di dalam posisi kontrol manajer, murid oleh guru diajak mengevaluasi
diri bagaimana menjadi diri yang lebih baik, menganalisis kebutuhan dirinya,
dan menganalisis kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan
memberikan konsekuensi kepada murid, tetapi guru dapat berkolaborasi dengan
murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.
Hal yang juga penting adalah bagaimana menyelesaikan masalah peserta didik dengan menerapkan segitiga restitusi. Ada 3 tahapan segitiga restitusi yaitu: Menstabilkan identitas peserta didik, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan. Segitiga restitusi diterapkan untuk menguatkan karakter murid, dan mengembalikannya ke dalam kelompoknya, dan menjadikan peserta didik menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Langkah-langkah Segitiga Restitusi
Di dalam kelas langkah yang bisa dilakukan dalam menerapkan "Budaya Positif" adalah dengan pembentukan "Keyakinan kelas". Keyakinan kelas merupakan nilai-nilai postif yang disepakai bersama oleh para murid, kemudian dituliskan di kelas sebagai pengingat bahwa ada keyakina kelas yang supah mereka sepakati bersama.
Keyakinan kelas memiliki dampak yang besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Apabila guru dan murid membuat keyakinan kelas dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran, maka akan berpengaruh pada perubahan tingkah laku peserta didik. Perubahan tingkah laku ini juga akan berujung pada terbentuknya budaya positif di kelas.
Untuk itu, keyakinan yang baik tidak hanya digunakan dalam pembelajaran saja, namun perlu juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, untuk membangun budaya positif di sekolah langkah yang dapat ditempuh adalah memulainya dengan membangun budaya positif di kelas melalui komunikasi yang efektif.
Demikianlah Aksi Nyata Modul 1.4. ini penulis lakukan di SMPN 2 Dolok Sigompulon, dengan harapan aksi ini akan memberikan dampak dan bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tetap semangat berkarya bagi bangsa.