Tampilkan postingan dengan label Webinar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Webinar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 November 2021

Jangan lewatkan hari ini tanpa menulis...

 

"Menulislah setiap hari dan buktikanlah apa yang terjadi", sebuah kalimat yang selalu tertanam di dalam hati Pak Gurdes. Kalimat tersebut selalu disampaikan Bapak Wijaya Kusumah -akrab dipanggil Om Jay- ketika Pak Gurdes mengikuti pelatihan menulis online oleh PGRI pusat.

Masih sangat jelas dalam ingatan Pak Gurdes bagaimana Om Jay bercerita bahwa berkat menulis setiap hari dia mengalami banyak keajaiban-keajaiban. Mulai dari omset yang meningkat, dikenal banyak orang sampai mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan Bapak Presiden Joko Widodo. Hal itu beliau peroleh karena dinobatkan menjadi salah satu penulis yang teraktif di kompasiana.

Hari ini Pak Gurdes kembali berkesempatan untuk berbagi pengalamannya dalam menulis. Pelatihan menulis kali ini difasilitasi oleh Ikatan Alumni Pelayan (IKAPEL) UNIMED melalui bidang keahlian dan kerohanian.


Ketika pertama sekali dihubungi oleh Gora -pengurus IKAPEL yang mengurusi pelatihan- Pak Gurdes sangat senang. Hal itu karena Pak Gurdes serasa pulang kampung, hehehehe. Iya, memang sepuluh tahun lalu Pak Gurdes sudah terlibat dalam kegiatan-kegiatan di IKAPEL. Dia pernah menjadi pengurus bahkan menjabat sebagai ketua IKAPEL selama dua periode.

Berjumpa kembali dengan Bang Mardi, Kak Ira, Ira Munthe membuat Pak Gurdes merasa masih pengurus seperti satu dasawarsa lalu, hahahaha... Setidaknya ada kebahagiaan tersendiri baginya melihat semangat para alumni tetap "eksis" dalam melayani Tuhan.

Hari ini Pak Gurdes membagikan pengalamannya sejak memutuskan diri untuk terjun ke dalam dunia kepenulisan. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Juni 2020 Pak Gurdes memulai kehidupan yang baru. Kehidupan yang setiap hari dilaluinya dengan merangkai kata, kalimat, paragraf sampai pada karya nyata yang telah ada.

Pak Gurdes sadar bahwa menjadi seorang penulis harus dimulai dari niat, kemudian komitmen, dan disertai dengan kekonsistenan. Kalau tidak jangan harap bisa berhasil dalam dunia tulis-menulis.

Banyak hal yang sudah dirasakan oleh Pak Gurdes sejak terjun dalam dunia menulis. Sosok yang dulunya tidak suka menulis, lebih suka belajar angka dan rumus-rumus, tetapi akhirnya "bermetamorfosis" menjadi orang yang selalu terlibat dalam karya tulis.

Dari pertemuan yang dihadiri sekitar 30 orang peserta malam ini, Pak Gurdes sangat berharap akan lahirlah penulis-penulis yang tangguh dan ulet. Penulis yag tidak mudah menyerah, tetapi mau belajar dan berjuang sepenuh tenaga untuk bisa menghasilkan karya.

Harapannya setiap peserta bisa membagikan tulisannya di grup atau media sosialnya masing-masing. Itu adalah langkah awal yang sangat baik untuk melatih diri dalam menulis. Walaupun tulisan sederhana tetapi pasti bisa memberikan inspirasi bagi setiap pembacanya. Karena setiap tulisan pasti akan menemui takdirnya.

Pak Gurdes percaya ketika setiap hari kita menulis maka hal itu akan sangat berguna dalam melatih dan membentuk kita, sampai akhirnya nanti menulis bukan lagi hal yang menyulitkan bagi kita. 

Adapun hal yang terutama adalah dengan menulis kita bisa menyebarkan kebaikan-kebaikan, menularkan semangat dan menjadi sumber inspirasi bagi setiap pembaca. Dengan menulis kita bisa menjadi berkat bagi sesama.

"Jangan lewatkan hari ini tanpa menulis"  Semoga kalimat ini juga yang menjadi komitmen setiap peserta yang mengikuti pelatihan hari ini...

Semangat...
Jangan menyerah...
Pasti bisa...

Rabu, 22 September 2021

Hidup Untuk Berkarya, bersama AGUPENA

 






Nasionalisme Seorang Guru

Sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk berbagi bagaimana sosok guru yang memiliki nasionalisme dalam mengembang tugasnya sebagai pendidik generasi penerus bangsa. Karena bagaimanapun guru adalah kunci kemajuan bangsa. 


Guru adalah model yang ditonton siswa setiap harinya di sekolahnya. Guru sangat berdampak dalam memperlengkapi pengetahun dan keterampilan siswa dan pastinya guru jugalah yang sangat berperan dalam membentuk mental dan kepribadian setiap anak didiknya.

Guru harus nasionalis, guru harus memiliki pandangan yang utuh mengenai negara indonesia dari Sabang sampai Merauke, dengan keanekaragaman suku, bahasa, budaya dan agama. Guru tidak boleh terjebak dalam pikiran sempit dan membeda-bedakan setiap anak didik yang dipercayakan kepadanya. Guru harus bisa menjadi role model, sebagai sosok nasionalis sejati yang selalu melayani dengan hati.

Nasionalis artinya cinta kepada tanah air, cinta tanah air berarti harus rela berkonban bagi bangsa. Rela berkorban berarti rela menepis kepentingan sendiri, dan lebih mengedepankan kepentingan nusa dan bangsa. Guru nasionalis adalah guru yang sungguh-sungguh mengabdi dengan hati yang tulus dan sepenuh hati walaupun banyak tantangan dan rintangan yang harus dilalui.


Dengan berbagai medan yang berbeda-beda, ada yang di kota dan di desa. Pasti memiliki tantangan yang berbeda pula. Tetapi guru nasionalis harus tetap semangat, semangat dan selalu semangat dalam memenuhi panggilannya sebagai pendidik anak negeri. 

Guru harus bisa menjadi guru yang nasionalis dengan berjuang. Guru nasionalis senantiasa berusaha menjadi guru pembelajar yang selalu haus akan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang baru. Guru penggerak yang selalu berusaha menggerakkan orang-orang di sekelilingnya untuk melakukan seuatu pembaharuan, yang dimulai dari hal-hal yang sederhana sekalipun. 

Guru yang menginspirasi, melalui karya nyata yang selalu ada sebagai sumber inspirasi bagi orang-orang di sekelilingnya baik teman sejawat dan siswanya. Dan hendaknya guru nasionalis selalu mendidik dengan melayani sepenuh hati.

Hidup guru nasionalis, hidup bangsa Indonesia...



Minggu, 06 Juni 2021

Resume Webinar "Berkarya untuk Bangsa, Berkarya Tanpa Batas"

"Sesungguhnya bagian terindah dalam hidup ini adalah saat kita bisa berbagi hal positif, kebaikan, dan kebahagiaan dengan orang lain". 

Teringat kembali akan komitmen untuk selalu berbagi ilmu. Momen yang terjadi pada saat menyelesaikan penelitian tugas akhir semasa kuliah tepatnya empat belas tahun yang lalu. Perjuangan yang meletihkan ketika menuntaskan penelitian yakni merancang sebuah alat pengukur suhu jarak jauh. 

Banyak kenangan yang tidak akan terlupakan, secara khusus ketika akhirnya alat tersebut dapat berfungsi, penelitian berhasil di tengah-tengah tuntutan waktu yang sangat sempit untuk mendaftar sidang hasil penelitian. Air mata bahagia menetes, dan mulut berguman sambil bersyukur. Ada janji yang terucap untuk selalu berbagi ilmu pengetahuan yang kupunya kepada orang lain. 

Kesempatan berbagi kembali terwujud nyata pada acara Webinar "Berkarya untuk Bangsa, Berkarya Tanpa Batas" yang diselenggarakan oleh Prodi Manajemen Pendidikan Kristen Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung pada Hari Sabtu, 5 Juni 2021 yang lalu. 

Sangat senang berjumpa dengan orang-orang hebat. Mahasiswa/i energik calon pembaharu bangsa, dosen yang gigih dalam menempa para mahasiswanya, dan guru-guru yang selalu rindu untuk memberi kontribusi untuk negeri.

Sebagai catatan bagaimana jalannya acara tersebut, saya memberikan tantangan membuat resume kepada peserta. Yang awalnya saya menjanjikan hanya untuk satu orang peserta, tetapi setelah membaca resume yang masuk ke email saya, akhirnya ada dua peserta yang menurut saya layak mendapatkan apresiasi atas kerja keras dan kegigihan mereka. Bahkan ada yang sampai mengirim ulang resumenya beberapa kali yang menandakan adanya semangat yang tinggi untuk memperoleh buku dari saya... Hehehe...

Inilah resume dari Ibu Yetti Evana dan adik kita Junita Simaremare, mari kita baca bersama...


Guru Giat Berkarya, Bangsa Bangkit dan Jaya

Oleh: Yetti Evana, S.Pd, Guru SD Taruna Bakti Bandung

Ketika sebuah karya selesai ditulis maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi. ( Helvy Tiana Rosa ). Quotes ini yang membuat saya sebagai guru ingin terus berkarya agar dunia pendidikan di Indonesia semakin maju.

Jari jemari saya pun segera merangkai kata demi kata dan menyusun kalimat demi kalimat agar menjadi sebuah paragraf dan menghasilkan sebuah resume dari webinar yang saya ikuti dengan salah satu narasumber keren yaitu Pak Sahat S. Naibaho seorang guru, penulis dan juga editor buku.

Webinar pelatihan penulisan karya ilmiah ini dilaksanakan via zoom pada hari Sabtu, 05 Juni 2021 pukul 09.00 – 13.00 WIB dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya dan salah satunya adalah Pak Sahat.

Kondisi literasi di Indonesia 0,001 %, sangat minim tetapi waktu untuk menatap gadget kurang lebih 9 jam per hari. Indonesia mendapat peringkat 111 dari 189 negara di dunia. Di sini lah peran guru sangat diperlukan. Guru memiliki kontribusi yang sangat besar untuk memperbaiki kondisi bengsa kita.

            
Manfaat penyusunan karya tulis ilmiah menurut Luthfi Abdul Malik, 2010 di antaranya adalah :
-          Terlatih mengembangkan ketrampilan membaca.
-          Terlatih menggabungkan hasil bacaan.
-          Dapat berkenalan dengan kegiatan lainnya

Alasan guru tidak menulis karya ilmiah menurut Ashari Muhri, 2012 di antaranya adalah :
a. Lemahnya motivasi guru
b. Kurang membaca
c. Tidak adanya budaya menulis di sekolah
d. Kemampuan berbahasa guru yang kurang

Empat publikasi yang bisa dilakukan oleh guru yaitu:
a. jurnal
b. makalah
c. tulisan ilmiah popular
d. artikel ilmiah dalam bidang pendidikan

Publikasi buku contohnya :
a. membuat buku pelajaran per tingkatan
b. membuat modul/diklat pembelajaran per semester
c. membuat buku dalam bidang pendidikan
d. membuat karya hasil terjemahan
e. membuat buku pedoman guru

Syarat penulisan karya ilmiah = APIK
Asli ( bukan merupakan plagiat/jiplakan )
Perlu ( mempunyai manfaat dalam menunjang pengembangan guru )
Ilmiah ( memakai kerangka isi )
Konsisten ( secara keberaturan )
Apakah guru bisa menjadi seorang penulis ? YA karena:
- Guru adalah kaum intelektual
- Guru memang harus bisa menulis
- Pelatihan menulis yang banyak dan terbuka luas
- Banyak penerbit yang bersedia menerbitkan buku dengan biaya yang terjangkau.

Guru pasti bisa menulis dengan rumus NKK
Niat
Komitmen
Konsisten
 
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. ( Pramudya Ananta Toer )

Bandung, 5 Juni 2021
Ditulis pukul 23.00 WIB

Yetti Evana, S.Pd
SD Taruna Bakti Bandung

============================================
RESUME dari Pemaparan Materi Bapak Sahat Serasi Naibaho
Pada Webinar karya Ilmiah Pada Hari Sabtu, 05 juni 2021

Oleh: Junita Mesra Wani Simaremare, Mahasiswi IAKN Tarutung Semster IV

Kompetensi Apa yang harus di miliki oleh seorang Guru ? yaitu Mengembangkan Diri.
Mengapa menurut anda kompetensi itu penting terhadap Guru Penggerak ? yaitu agar mampu mengembangkan Orang-orang lain.
Apa contoh perilaku ataupun penerapan komptensi itu pada peran anda sebagai guru ? yaitu Guru harus Kreatif, dan mampu Menulis.

Alasan Guru harus meningkatkan kompetensinya, adalah :

·    Perkembangan IPTEKS

·    Amanat Undang-undang.

·    Dampak bagi Siswa

·    Dampak Bagi sistem Pendidikan Nasional

·    Mendorong tumbuh kembang peserta didik.

·    Mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik

·    Menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan

·    Mewujudkan profil pelajar pancasila ( profil pelajar pancasila yang dimaksud adalah peserta didik yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa dan berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebinekaan global, bernalar kritis, dan mandiri).

Guru memiliki kontribusi yang sangat besar untuk memperbaiki kondisi bangsa kita. Dibutuhkan guru yang berkualitas, sehingga SDM semakin meningkat. Salah satu caranya adalah meningkatkan kemampuan literasi (membaca dan menulis) para guru. Hal ini hendaknya dilatih dengan aktif dalam menulis karya ilmiah.

 

Manfaat Menulis Karya Ilmiah bagi guru:

1. Terlatih mengembangkan keterampilan membaca yang efektif karena sebelum menulis karya ilmiah, ia mesti membaca dahulu kepustakaan yang ada relebansinya dengan topik yang hendak dibahas.

2.  Terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber mengambil sarinya , dan mengembangkannya ke tingkat pemikiran yang lebih matang.

3.  Dapat berkenalan dengan kegiatan perpustakaan seperti mencari bahan bacaan dalam katalog pengarang atau katalog judul buku.

4.  Meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasi dan menyajikan data dan fakta secara jelas dan sistematis.

5.   Penulis dapat memperoleh kepuasan intelektual.

6.   Penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat.

      Dan Manfaat lainnya adalah Untuk memperoleh Point dan Koint.

       
       Ada 5 Alasan guru tidak menulis karya ilmiah, yaitu: 
       1.  Lemahnya Motivasi guru dalam menulis (malas)
       2.  Kurangnya membaca
       3.  Tidak adanya budaya menulis di sekolah
       4.  Kemampuan berbahasa guru kurang
       5.  Tidak sistematis dalam Berfikir

Hal ini menyebabkan apa yang ditulis terkadang tidak nyambung antara permasalahan, pemecahan dan penarikan kesimpulan.

Dan Alasan lainnya adalah : Karena sudah terbiasa dengan yang instan, nyaman dengan kondisi saat ini, ikut arus.

Mengapa Guru Harus Menulis ?

Disamping memiliki tugas utama yabg terdapat pada UU No. 14 tahun 2015, sebagai pendidik yang profesional guru juga diwajibkan mengembangkan keprofesian berkelanjutan (PKB).

PKB merupakan pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan , bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya (permennegpan dan reformasi birokrasi Nomor 16 Tahun 2009). Yang meliputi pengembangan diri, Publikasi Ilmiah dan karya inovatif.

Ada 2 cara Membuat karya Hasil Terjemahan. Yaitu :

1. Tulisan yang dihasilkan dari penerjemahan buku pelajaran atau buku dalam bidang pendidikan dari bahasa asing atau bahasa daerah ke bahasa indonesia. Atau sebaliknya dari bahasa daerah yang akan digunakan untuk membantu proses pembelajaran.

2. Buku terjemahan tersebut harus dilengkapi dengan surat pernyataan dari kepala sekolah yang menjelaskan perlunya karya terjemahan tersebut untuk menunjang proses pembelajaran disertai tanda tangan kepala sekolah dan cap sekolah bersangkutan.

 
Guru Menjadi Penulis Buku, karena :
a.       Guru adalah Kaum Intelektual
b.      Guru memang harus bisa menulis
c.       Pelatihan menulis yang banyak dan terbuka luas khususnya masa pandemi saat ini,
d.      Banyak penerbit yang bersedia menerbitkan buku dengan biaya yang terjangkau.

Semua orang Pasti bisa menjadi Penulis. Dengan RUMUS NKK, Yaitu :
N= Niat K= Komitmen K= Konsisten

Banyak karya yang seharusnya bisa dihasilkan guru karena dengan karya guru berkontribusi bagi peningkatan mutu pendidikan yang akan berdampak pada perbaikan kualitas SDM dan Pendidikan di negara tercinta yaitu Indonesia.

Bagi yang ingin menonton kegiatan tersebut bisa disaksikan di: https://youtu.be/WTI4-uT7v-4

Sabtu, 05 Juni 2021

Berkarya Tanpa Batas...


Hanya ungkapan syukur kepada Tuhan Sang Pencipta dan Pemelihara hidupku. Kusampaikan syukur yang sangat mendalam. Ya, begitu luar biasanya kasih-Nya sehingga diberikan kesempatan yang tidak pernah terpikirkan olehku. Hal yang sangat luar biasa ketika pada hari ini menjadi Narasumber pada kegiatan Pelatihan Menulis Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung.

Selama dua minggu sebelumnya, kekuatiran menimpaku. Keraguan dan ketakukan bagaimana nantinya pada hari-H. Apa yang harus kusampaikan, aku tidak mampu. Tetapi komitmen untuk berbagi dan berkarya itulah yang menguatkanku. Untuk berani melangkah maju, tidak boleh gentar. Percaya bahwa ketika melakukan suatu hal yang tujuannya untuk kebaikan, pastilah Tuhan mampukan.

Malam ini semuanya terasa lempang, akhirnya semuanya berjalan dengan lancar. Pengalaman pertama menjadi Narasumber melalui Zoom Meeting. Memang sudah empat kali menjadi Narasumber pada kegiatan menulis online, tetapi menggunakan aplikasi WhatsApp. Pastilah berbeda, karena kalau melalui WhatsApp, saya hanya membagikan teks sehingga bisa lebih santai. Sangat berbeda dengan hari ini, seperti di kelas nyata, menjabarkan materi secara langsung kepada peserta.

Dihadapan 170-an peserta memaparkan materi, sungguh pengalaman yang luar biasa. Antusias peserta yang didominasi mahasiswa IAKN. Ya memang sekitar 80% peserta adalah mahasiswa, dan sisanya adalah guru. Saya senang bisa berbagi dan berdiskusi dengan para peserta, dan hari ini seolah-olah beban dan tanggung jawab untuk selalu berbagi dan membantu orang lain semakin terasa dan bergelora.

Guru adalah tonggak penentu maju mundurnya suatu bangsa, oleh karenanya melalui webinar kali ini ditekankan supaya para guru sadar akan tanggung jawab yang besar yang dipikulnya. Guru tidak boleh anti dalam belajar, tetapi harus menjadi contoh bagi peserta didiknya. Guru harus menjadi inspirasi melalui apa yang dilakukannya, bukan hanya dari ucapan semata.

Banyak hal yang harus diperbaiki, banyak hal yang harus diperbaharui dan banyak hal yang harus diperlengkapi. Guru tidak boleh terlena, tidak boleh manja, tidak boleh malas untuk berkarya. Guru berkarya, dimulai dari diri sendiri yang mau bangkit dan memperlengkapi diri. Semoga guru-guru sadar dan mau mengambil bagian untuk memajukan bangsa dengan karya yang menginspirasi.

Ini adalah langkah pertama dari langkah ke-seribu yang harus dilalui. Harus berani menatap terus ke depan, pantang goyah, dan terus memperlengkapi diri.  Yakin bahwa ada kesempatan dan tantangan yang lebih besar lagi yang sudah disiapkan untuk kita lakoni. 

Maju terus pantang mundur, semangat tidak boleh kendur...

Ayo tetap atur nafas, untuk berkarya tanpa batas...

Postingan Terbaru

Janji kepada Ilahi

Komitmen adalah janji. Janji yang seharusnya selalu ditepati. Tetapi seringkali komitmen hanya ilusi, hanya sebagai ucapan yang tidak diinga...

Postingan Terpopuler dalam sebulan ini