Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Agustus 2021

Belajar Nada di Masa Tua


Tidak ada kata terlambat dalam belajar, itulah prinsip yang selalu ku yakini. Belajar apapun selagi masih ada kesempatan, karena belajar apalagi hal-hal yang baru adalah satu kegiatan yang sangat menantang dan menyenangkan. Yang pasti pertama sekali harus ada niat untuk mau membuka hati dan pikiran, sehingga yang dipelajari akan dapat tersimpan dengan cepat di dalam memori.

Hari ini adalah hari keempat saya mendampingi remaja dan pemuda di gereja saya dalam berlatih memainkan keybaord (lebih tepatnya organ) dalam mengiringi lagu-lagu gerejawi. Amang Samosir yang sengaja diundang dari GKPI Rantauprapat telah menyediakan waktu khusus setiap hari Kamis pukul 5 sore untuk melatih generasi muda di gereja kami -GKPI Jeriko Sigambal-.

Dari awal saya sudah niatkan untuk mengikuti setiap kali latihan diadakan. Walaupun tidak dianggap sebagai peserta, tapi saya selalu menyimak ilmu yang disampaikan pelatih kepada para peserta yang hadir. Tak lupa saya selalu menyimpan catatan teori setiap latihan diadakan.

Pada pertemuan perdana, peserta diajarkan tentang Interval tangga nada lengkap dengan akord mayor dan minor dengan nada dasar C = do


Pertemuan kedua, pelatih memberikan pelajaran untuk melatih kegesitan tangan dalam menekan tombol keyboard. Baik tangan kanan maupun tangan kiri memiliki aturan yang berbeda supaya dengan lincah bisa menari di atas tuts keyboard.


Pertemuan ketiga, tepatnya sudah mengajarkan tentang perpaduan antara nada (satu tuts yang ditekan tangan tangan) dengan chord (3 tuts yang ditekan tangan kiri).


Hari ini yang merupakan pertemuan keempat, kembali mengulangi perpaduan antara tangan kanan dan tangan kiri, atau lebih tepatnya menghasilkan nada organ yang dapat mengiringi lagu. Terakhir pelatih memberikan praktek kepada para peserta untuk berlatih mengiringi lagu KJ. No. 66.

Semoga ilmu yang didapat para peserta bisa bermanfaat, dan akhirnya bisa mahir dalam bermain keyboard (organ).... 
Dan tentunya saya walaupun bukan terdafatar sebagai peserta, juga harus bisa dan mampu karena belajar harus sepanjang hayat...

Tangguh Mendidik di Masa Pandemi

TANGGUH MENDIDIK DI MASA PANDEMI

Cerita pada upacara HUT RI ke-76 (17 Agustus 2021)

Sebagai seorang guru di sebuah desa tertinggal, saya sangat merasakan bagaimana pandemi covid-19 telah banyak memberikan pengalaman baru khususnya dalam menyiasati supaya proses pembelajaran tetap bisa berlangsung, karena tidak bisa berjalan normal seperti biasanya. 

Termasuk dalam upacara bendera dalam rangka perayaan HUT RI ke-76 hari ini. Biasanya semua sekolah (SD, SMP/MTS, SMA/MA) se-kecematan akan melaksanakan upacara bersama di lapangan sekolah kami (SMPN 2 Dolok Sigompulon), tetapi dua tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Tahun lalu sama sekali tidak ada pelaksanaan upacara di seluruh instansi di tingkat kecamatan, tetapi hari ini kami diperbolehkan mengadakan upacara di satuan pendidikan masing-masing dengan menerapkan protokol kesehatan.Upacara yang sederhana dan penuh hikmat terlaksana di lapangan sekolah, jauh dari keramaian dan segala pernak-pernik bernuansa merah putih yang biasanya telah menghiasi lingkungan sekolah.

Upacara tadi pagi sangat berkesan bagi saya, ketika bendera sudah berkibar tinggi di udara, tiba-tiba hujan rintik-rintik mengguyur semua peserta upacara, tetapi ada hal yang sangat menarik, tidak ada satu pun peserta (baik siswa maupun guru) yang beranjak dari tempatnya, semua tetap mengikuti upacara sampai doa selesai dibacakan sebagai tanda upacara selesai. Akhirnya upacara berjalan dengan penuh makna di tengah cuaca mendung dan hawa yang cukup dingin.

Inilah sedikit kisah dari banyak cerita yang saya alami selama 7 tahun mengabdi di sebuah sekolah yang terletak di pegunungan bukit barisan Sumatera Utara. Banyak suka duka, termasuk ketika kami harus mengajar di rumah-rumah penduduk karena tidak diperbolehkan tatap muka di sekolah karena pandemi covid-19 yang masih belum mereda.




Tetapi apapun situasi dan kondisi yang terjadi, tidak akan menyurutkan semangat dalam mendidik anak negeri, harus tetap berjuang dan optimis. Karena menjadi guru yang tangguh, itu suatu keharusan…

PANDEMI SEGERALAH BERLALU…

JAYALAH NEGERIKU...

MERDEKA… MERDEKA… MERDEKA


#WardahInspiringTeacher 

#SalingJagaUntukIndonesia

Selasa, 27 Juli 2021

Sakit...Sungguh sangat sakit...


Kutuliskan apa yang kualami pagi tadi... Kesakitan yang baru pertama kali kurasakan seumur hidupku... Sakit...sungguh sangat sakit.

Tadi pagi aku terbangun pukul 05.30 WIB, kurasakan ada yang aneh di sekitar pinggangku, tepatnya pinggang bagian kanan. Kuraba terasa sakit, kemudiaan aku duduk rasa sakit semakin terasa. Kucoba rebahkan diri untuk mencari posisi yang nyaman, tetapi rasa sakit tetap terasa dengan posisi tidur yang berbeda-beda.

Sakitnya makin terasa, bukan hanya pinggang saja, juga mulai terasa di saluran kencing, aku pun tidak tahan lagi. Aku Segera melangkahkan kaki dengan menahan rasa sakit ke kamar sebelah untuk memanggil istriku yang sedang tidur bersama anak-anakku. 

"Ma... bangun...  sakit ma... sakit" ujarku sambil memegangi bagian pinggangku. Mama segera bangun dan menghampiriku sambil menanyakan apa yang aku rasakan. Sakit itu semakin kurasakan, aku berguling-guling di kamar, merangkak di lantai, berdiri, duduk dan entah apa lagi yang kulakukan untuk menahan rasa sakit yang kurasakan.

Memang semakin lama, rasa sakit itu semakin menjadi. Rasa nyeri di pinggang, serasa pingganggu penuh dan sesak. Aku ke kamar mandi untuk buang air kecil tetapi tidak ada urine yang keluar.

Aku kembali lagi ke kamar. Aku mulai merintih... Bahkan sampai menangis menahan sakit itu. Mama menenangkan dan mengajakku berdoa... Aku hanya bisa tidur sambil menutup mata, karena kucoba untuk duduk tapi sakit itu makin terasa. Mama pun mendoakanku...

Rasa sakit juga tidak hilang... Bahkan bertambah sakit... Mama mengolesi pinggangku dengan minyak kutus-kutus, tapi tidak memberi pengaruh apa-apa. Kusuruh mama mengambil air hangat untuk mengompres bagian yang sakit. Dan memang agak berkurang rasa sakit yang kurasakan, walaupun hanya sedikit.

Begitu air kompresan dingin rasa sakit kembali muncul. Aku tidak tahan lagi... Aku mengangis dan meraung-raung... Mama akhirnya menelepon Kak Ica br.Tambunan, teman satu gereja yang kebetulan seorang perawat di RSUD Rantauprapat tetapi tidak tersambung. 

Walaupun akhirnya setelah beberapa menit kemudian kakak tersebut menelpon dan menyarankan kami untuk berobat melalaui IGD kalau memang sudah tidak tahan lagi.

Mama juga menelpon Nelly, adik satu gereja, seorang perawat di RS Imelda. Karena RS. Imelda lebih dekat dengan rumah, kami rencanakan ke sana saja untuk segera di periksa. Mama menyuruh Nelly untuk menemani ke Rumah Sakit pagi itu juga.

Aku tetap menangis sambil merasa sakit. Mama pergi mencari sarapan, aku menemui anak-anak yang sedang menonton di kamarnya. Aku bergerak ke arah tempat tidur sambil menangis dan meminta mereka mendoakanku. "Doakan papa bang, doakan papa dek, doakan papamu ini, papa sakit" itulah kalimat yang keluar dari mulutku.

"Aku sudah doakan tadi." kata Abang Noel. Sedangkan Adek El hanya terdiam sambil melihat tingkahku yang tidak seperti biasanya. Aku memohon kepadanya, "Doakan dulu Papa dek." Ucapku lagi. Adek El pun mendekat, melipat tangan dan menutup matanya.

"Tuhan berkati Papa yang sedang sakit, berikan kesembuhan buat Papa." Itulah doa anak gadisku yang baru berusia lima setengah tahun dengan penuh ketulusan. 

Mama pun kembali dan menyuruh anak-anak untuk pergi ke rumah Amang Simarmata (tetangga) karena kami akan ke rumah sakit. Aku pun duduk di tempat tidur, masih di kamar anak-anakku. Sepertinya sakitnya sangat-sangat berkurang. Pinggangku sudah mulai tidak sakit seperti sebelumnya.

"Tidak usah lah ke IGD ma, aku sudah lebih enak kurasa." Kataku pada mama. 
"Betul pa?" kata mama. 
"Ya ma, kalau mau berobat pun biarlah ambil rujukan dulu dari puskesma baru nanti ke Rumah Sakit." Kataku.

Mama pun menelepon Nelly, rupanya dia sudah di jalan menuju rumah. Setibanya di rumah, aku dan mama mengatakan untuk nanti saja ke Rumah Sakit Imelda, Setelah ambil rujukan dari Puskesmas. Dia pun mengiyakan akan menemaniku ke Rumah Sakit tempatnya bekerja nanti siang. Karena kebetulan mama ada zoom pukul 09.00 pagi.

Kami pun sarapan... Badanku semakin membaik... Sepertinya rasa sakit itu sudah menghilang. Aku pegang pingganggku tidak sakit lagi... Bahkan untuk meyakinkan mama dan anak-anak aku mengoyang-goyangkan pinggangku sebagai tanda tidak ada lagi rasa sakit.

Akhirnya memang hari ini kami tidak ada ke rumah sakit. Tetapi berdasarkan konsultasi dengan Kak Ica, aku harus banyak minum air putih. Ya, minimal 3 liter satu hari.

Memang kuakui, kemarin waktu ke sekolah aku kurang minum. Aku hanya membawa minum di dalam botol aqua 600 ml dan itupun tersisa setengah ketika kembali ke rumah. Padahal biasanya aku membawa minuman di dalam botol minum tuperware berisi 1,5 liter setiap ke sekolah dan berusaha untuk menghabiskannya.

Aku juga teringat waktu pulang sekolah aku menahan untuk buang air kecil. Aku melewati beberapa perkampungan baru akhirnya menepi untuk buang air. Memang jarak tempuh ke sekolahku sejauh 32 km denga wktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Sakit... Sungguh sakit yang kurasakan pagi tadi... Kesakitan itu masih terngiang jelas... Itu mengingatkanku untuk lebih sungguh-sungguh lagi dalam menjaga kesehatanku...

Semoga sakit itu tidak lagi terulang... AMIN

Postingan Terbaru

Janji kepada Ilahi

Komitmen adalah janji. Janji yang seharusnya selalu ditepati. Tetapi seringkali komitmen hanya ilusi, hanya sebagai ucapan yang tidak diinga...

Postingan Terpopuler dalam sebulan ini