Kamis, 09 Juli 2020

Prsoses meberbitkan buku bersama Pak Joko Irawam Mumpuni



Ada hal berbeda dari belajar menulis malam ini, dimana biasanya narasumber memaparkan materi melalui tulisan, teteapi pak Joko Irawiran Mumpuni yang menjadi narasumber malam ini memaparkan materi lewat slide berupa foto dan suara, hal ini beliau katakan supaya peserta belajar menulis tidak langsung meng-kopy - paste tulisan percakapan ketika membuat resume pembelajaran. Hal ini menjadi suatu yang baru bagi saya, akhirnya saya membuat resume dengan kembali melihat slide dan mendengar pesan suara yang dibagikan oleh beliau. Bapak Joko Irawan menjabat sebagai direktur Penerbitan di Penerbit ANDI, Ketua IKAPI DIY, beliau juga merupakan penulis buku bersertifikat BNSP dan asesor BNSP 

Diawal materi pak Joko mengingatkan bahwa seorangu guru adalah akademisi, sebagai akademisi seharusnya guru tidak hanya sampai pada menulis, karena semua orang bisa menulis. Tetapi hendaknya seorang guru bisa menerbitkan atau mempublish. Yang beliau jumpai ada beberapa motivasi calon penulis untuk menerbirkan buku. Pertama, ingin mendapatkan royalti, semakin banyak buku yang dia tulis semakin banyak jumlah uang yang didapatnya. Kedua, bertujuan untuk promosi diri (branding) dengan bermaksud untuk dikenal, untuk menempati suatu jabatan ataupun untuk dipilih dalam kontestasi politik. Ketiga,  karena mengikuti peraturan (regulasi), biasanya motivasi ini dimiliki guru atau dosen untuk mencapai kenaikan pangkat.

Ada beberapa tahapan sebelum menjadi penulis, seperti pada gambar berikut :


Dimulai dari tidak mau menulis, mau tetapi tidak tahu caranya memulis sampai pada mampu, mau untuk menulis dan melakukannya. Mari kita evaluasi pada posisi tanggak mana kita saat ini. Yang pasti untuk mencapai posisi tangga tertinggi perlu proses dengan usaha yang sungguh-sungguh.

Penerbit merupakan suatu perusahaan yang bertujuan utama untuk menghasilkan keuntungan, sehingga tidak sembarangan dalam menerbitkan buku. Dalam menerbitkan buku akan terlebih dahulu diperkirakan bagaimana keuntungan yang akan diperoleh setelah menerbitkan buku teresebut. 
Ekosistem industri buku, perusajaan yang mencari keunutngan sehingga tidak sembarangan menerbitkan buku .

Dalam menerima tulisan penerbit mempertimbangkan kepopuleran penulis dan tulisan yang dikirimkan. Penulis yang populer dengan tulisan yang kurang populer bisa diterima penerbit, karena dengan kepopuleran penulis maka orang akan membeli bukunya apalagi bila penulis dan tulisan populer itu usdag pasti diterbitkan. Yang selanjutnya penulis yang tidak populer bagamaimana mensiasati suapaya tulisannya diterima penerbir? Dengan membuat tulisan yang populer yang sehingga dengan isi buku yang populer membuat orang mau membeli buku tersebut.

Di bagian penutup beliau mengingatkan supaya peserta segera memulai menulis, bukan sekedar akan menulis. 

Banyak hal yang dipelajari dari pertemuan pada malam hari ini, semoga teteap memotivasi saya untuk tetap semangat untuk menulis.



Senin, 06 Juli 2020

Ingin menerbitkan buku di PENERBIT ANDI? Hal ini wajib kamu ketahui...



Tujuan akhir dari seorang penulis dalam menulis pastilah untuk menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku, karena sebagus apapun tulisan yang dibuatnya bila tidak dicetak oleh pihak penerbit tidak akan ada artinya, sehingga sangat dibutuhkan kerjasama yang baik antara penulis dengan pihak penerbit. Penerbit ANDI merupakan salah satu penerbit Mayor yang ada di indonesia, Penerbit yang berdiri sejak awal tahun 1980 ini tetap eksis hingga hari ini. Setiap penulis pasti sangat bangga bila bukunya diterbitkan oleh penerbit ini, karena penulis sama sekali tidak mengeluarkan biaya, tetapi justru mendapatkan royalti. Tetapi jangan salah, tidak mudah loh proposal tulisan kita diterima, karena seleksi dan pertimbangan yang begitu ketat sehingga hanya sekitar 10 s/d 15 persen dari total tulisan yang masuk akan mereka cetak. Untuk lebih memahami bagaimana cara menerbitkan buku di Penerbit ANDI, ayo baca sampai tuntas resume belajar online melalui WAG malam ini dengan narasumber Bpk. Edi S. Mulyanta, S.Si., M.T. yang menjabat sebagai Publishing Consultan Andi Publisher dan juga merupakan penulis yang sudah menulis berbagai judul buku.


Diawal pertemuan malam ini pak Edi menyampaikan bahwa Dunia penerbitan adalah sebuah bisnis semata yang tentunya diikuti dengan idealisme, artinya nomor satu yang dicari adalah keuntungan dalam menerbitkan buku. Karena itu sama seperti sektor lainnya, pandemi covid-19 saat ini juga sangat berpengaruh kepada dunia penerbitan. Sejak bapak Presiden mengumumkan masuknya corona ke Indonesia, benih badai besar pada industri penerbitan tersemai dan membesar dengan deret multliplikasi yang luar biasa. Laju bisnis yang biasanya lancar seperti diibaratkan kendaraan yang melaju dengan gigi 5, mendadak harus mengerem dan menggantinya ke gigi paling rendah yaitu 1. Dan terkadang harus memarkirkan bisnisnya sementara waktu sambil melihat keadaan. Karena dengan berlakunya PSBB banyak  Toko buku khususnya Gramedia yang merupakan andalan penerbit harus ditutup, sehingga omzet terjun bebas hingga mengalami penurunan 80 sampai 90 persen.

Namun harapan kembali muncul di bulan Juni dan Juli karena outlet toko buku sudah buka sampai 80 persen karena penerapan New Normal. Di tengah asa yang mulai memberikan jalan untuk menerbitkan buku, pak Edi menyampaikan bahwa mengidentifikasi tema buku sangat penting di dalam keadaan chaos seperti pada saat ini. Sebagai contoh buku mengenai Virus Corona  bisa diterbitkan karena bahan-bahan buku tersebut sudah disiapkan dengan cepat oleh penulis-penulis yang bekerjasama dengan mereka. Dalam hal ini perlu  kesigapan seorang penulis dalam menuliskan materi dalam sebuah buku walaupun bahan-bahan sumber rujukan yang belum tersedia dengan mudah.

Seorang penulis harus selalu siap untuk mendapatkan peluang yang mungkin tidak diperkirakan sebelumnya. Penguasaan materi, penguasaan penguraian materi, eksekusi penulisan, hingga penawaran ke penerbit diperlukan kelihaian tertentu. Penulis yang siap menerima kesempatan adalah penulis yang selalu berlatih untuk selalu mengeluarkan bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan yang dapat dibaca oleh orang lain. Tentunya dengan tulisan yang terstruktur dan tidak ada distorsi makna kepada pembacanya.

Beliau juga mengingatkan bahwa semua perlu proses, latihan dan kemauan. Salah satu cara adalah dengan adanya komunitas menulis merupakan wadah latihan dalam menangkap peluang yang mungkin tidak selalu ada. Menulis perlu latihan, latihan perlu pengulangan berkali-kali sehingga akan semakin lihai dalam mengolah kata yang dirangkai dalam tulisan. Bakat hanya 1 persen, sisanya adalah kerja keras, tekun dan terus berlatih. Dengan menulis di blog adalah salah satu jalur yang sangat bagus untuk memulai menulis. 

Dalam memutuskan untuk menerbitkan buku, beliau menjelaskan bahwa penerbit akan selalu melihat sisi ekonomi dari tulisan yang dikirim, sehingga kemurnian keputusannya didasarkan oleh bisnis semata, sehingga terkadang tulisan yang luar biasa menurut penulis, tidak terlihat oleh penerbit, karena hanya melihat segi bisnis nya bukan proses menulisnya. Sehingga seorang penulis harus punya empati dengan mencoba melihat visi misi penerbit tersebut, kebiasaan tema-tema yang diterbitkan penerbit, buku-buku best seller yang biasanya dipampang di toko-toko buku.

Mengenai bagaimana memulai menulis dan menerbitkan buku, saran beliau penulis dapat mulai menulis dengan tema yang disukai dan betul-betul dapat dikuasai, kemudian tulis dengan terstruktur, muat di blog pribadi kemudian sebarkan di lingkungan teman. Jika sudah percaya diri, buatlah proposal ke penerbit yang berisi garis besar tulisan. Penerbit akan melihat tema, judul utama, outline tulisan, pesaing buku dengan tema yang sama, positioning buku (harga, usia, pembaca, gender, pendidikan, dll), disertai dengan alasan mengapa buku tersebut ditulis yang bisa menguatkan buku tersebut di terima oleh penerbit.

Di bagian penutup, beliau kembali memotivasi untuk tetap semangat dalam menulis, sebagai wujud dalam mendokumentasikan keilmuan yang dituliskan secara terstruktur sehingga pembaca akan dapat mewarisi ilmu yang dituliskan tersebut. Dengan menulis kita akan tetap diingat dan tidak lekang oleh jaman dan akan menjadi warisan untuk anak cucu kita.

Setelah pemaparan materi, adapun beberapa hal yang dibahas dalam sesi tanya jawab adalah sebagai berikut :

* Apa saja isi proposal yang disampaikan ke penerbit ?
Judul buku, Outline Rencana Buku dalam bentuk Bab dan Sub Bab, Sinopsis buku, CV penulis, dan menyertakan sampel bab yang sudah ditulis minimal 1 bab, sehingga memudahkan bagian editorial untuk memperkirakan kemampuan editing mandiri dari penulisnya. Proposal cukup dikirimkan ke email penerbit.

* Bagaimana Proses penerbitan buku ?
Proses Review 1 bulan, Editing 1 bulan, Pra produksi layout cover 1 bulan, produksi 1 bulan. Penulis menyerahkan dalam bentuk word tanpa cover (karena cover akan didesain oleh tim desain penerbit)

* Seberapa besar peluang tulisan diterbitkan dan bagaimana pembiayan penerbitan ? 
Tulisan yang diterbitkan hanya sekitar 10 sampai 15 persen dari naskah yang masuk. Adapun setiap bulan penerbit menerima naskah 150 sampai 300 judul. Pembiayaan sepenuhnya ditanggung penerbit, penulis tidak mengeluarkan biaya apapun.

*Berapa besar royalti untuk penulis?
Royalti sebesar 10 persen dari harga jual yang akan dibayarkan setiap 6 bulan kepada penulis.

*Apakah penerbit menerima penerbitan modul pembelajaran?
Penerbit menerima modul pembelajaran dengan syarat sesuai dengan kurikulum.

*Apabila buku sudah terbit apakah penulis mendapatkan buku hasil tulisannya?
Penulis akan mendapatkan sampel buku sebanyak 6 eksemplar

*Bagaimana ukuran kertas dan jumlah halaman buku yang akan dicetak?
Penerbit Andi menggunakan ukuran Unesco yakni 16 x 23 cm dengan jumlah halaman 125 sampai 200 halaman.

*Bagaimana mengetahui buku kita diterima penerbit?
Penerbit akan merespon buku yang diterima, untuk yang tidak diterima biasanya tidak direspon (3 bulan deadline). Penerbit sedang merencanakan membuat applikasi yang dapat diinstal di smartphone melalui playstore untuk memudahkan komunikasi antara penerbit dengan penulis, mulai dari proses pengajuan proposal sampai ke proses penulisan.

Dari pertemuan malam ini saya semakin paham bagaimana alur dan hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam menerbitkan buku di penerbit ANDI. Semakin memotivasi untuk terus berlatih menulis setiap hari, sembari berharap semoga suatu saat kelak tulisan saya bisa diterbitkan oleh penerbit ANDI.   AMIN

Minggu, 05 Juli 2020

Belajar dan terus belajar ...


Kehidupan merupakan kesempatan yang diberikan kepada setiap umat manusia untuk belajar. Belajar bukan berarti harus duduk di bangku sekolah dengan mendengarkan materi dari guru atau dosen kemudian mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Akan tetapi kapanpun dan dimanapun berada kita bisa belajar. Setiap pengalaman dan apa yang kita lihat disekeliling kita merupakan sumber belajar bagi kita.

Belajar bukan soal usia muda atau tua, semua orang bisa belajar. Seorang anak kecil mulai dari belajar merangkak, kemudian belajar berjalan, belajar berbicara, belajar membaca, belajar berhitung, belajar tentang alam, belajar bersosialisai, belajar untuk hidup mandiri dan seterusnya dan sampai akhir hayatnyapun dia akan terus belajar. 

Belajar dilakukan oleh semua profesi yang ada. Seorang petani akan terus belajar dari pengalamannya sehingga hasil panen yang diperolehnya lebih baik dari panen sebelum-sebelumnya. Seorang pedagang akan terus belajar bagaimana memasarkan dagangannya untuk mendapat keuntungan yang lebih baik dari yang sebelumnya. Seorang nelayan akan terus belajar kapan dan dimana tempat yang tepat untuk mendapatkan hasil ikan yang memuaskan. Seorang siswa akan belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai yang baik, demikian juga seorang gurupun akan terus belajar bagaimana cara yang terbaik untuk mengajari murid-muridnya dari pengalaman-pengalamannya sebelumnya.

Belajar bukan soal status sosial, karena orang kayapun bisa belajar dari orang miskin, bagaimana ketekunan, keikhlasan, kesabaran dan kesederhaan yang mereka miliki. Seorang pimpinanpun harusnya bisa belajar dari hal-hal positip yang dimiliki bawahannya sehingga dia tidak merasa sombong akan jabatan atau kekuasaan yang dimilikinya,  demikian juga seorang bawahan perlu belajar dari pengalaman pimpinannya sehingga kelak bisa menjadi seorang pimpinan. 

Setiap orang pasti memiliki kelebihan dengan latar belakang apapun dia, oleh karenanya kita bisa belajar dari semua orang yang kita jumpai. Ketika kesombongan menguasai kita, maka proses belajar akan sulit kita jalani, karena seolah-olah kita lebih pintar dalam segala hal dibanding dengan orang yang kita jumpai. Oleh karenanya diperlukan kerendahan hati untuk bisa belajar sehingga akan mendapatkan hal-hal positip dari orang lain tanpa memandang rendah terlebih dahulu dengan kondisi atau latar belakang orang tersebut. 

Orang yang tekun belajar akan semakin kaya akan pengetahuan dan hikmat. Dia akan memiliki segudang pengetahuan yang bisa diterapkannya di dalam kehidupannya sesuai dengan prosfesi yang digelutinya. Bahkan dia akan memiliki kedewasaan dalam berpikir, dan mampu untuk bertahan ditengah-tengah tantangan, dan biasanya orang seperti akan menjadi sumber inspirasi bagi orang disekelingnya karena dia selalu menebarkan hal-hal yang positip kepada oran lain.

Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk, demikianlah karakter yang dimiliki orang berpengetahuan yang didapatkannya berkat ketekunannya dalam belajar. Tidak ada kesombongan, karena baginya semua itu tidak berarti apa-apa karena masih banyak lagi hal-hal lain yang harus dipelajarinya di tengah-tengah kehidupan ini, baik itu belajar dari pengalaman yang sudah dilalui, belajar dari sekelilingnya maupun belajar akan pengetahun baru yang dihasilkan oleh perkembangan zaman. 

Oleh karena itu, selagi masih ada kesempatan, mari belajar untuk terus belajar ... 

Jumat, 03 Juli 2020

6 Kunci Menjadi Penulis Yang Produktif bersama Dr. Ngainun Naim

Menjadi penulis yang produktif dengan menghasilkan banyak karya dalam bentuk tulisan adalah hal yang diimpikan banyak orang, tetapi tidak semua orang bisa mengikuti jejak pemateri malam ini, yakni Bapak Dr. Ngainun Naim dengan segudang karyanya. Dari profil yang saya baca beliau sudah menerbitkan lebih dari 25 judul buku dan 14 buah artikel jurnal.

Dalam pembelajaran malam ini untuk pertama kalinya ibu Sri Sugiastuti yang akrab dipanggil kanjeng berperan sebagai moderator, yang mana ibu ini juga sudah memiliki banyak karya dalam menulis dan beliau juga menjadi pembimbing kami dalam menulis beberapa buku yang akan diterbitkan.

Di awal pemaparan materinya, bapak Dr. Ngainun yang berprofesi sebagai dosen di IAIN Tulungagung ini menekankan kembali bahwa "Guru adalah kunci penting dalam dunia pendidikan". Jika guru berkualitas, besar kemungkinan kelas yang diajarinya juga berkualitas, tapi jika gurunya kurang berkualitas, tentu hasil pembelajarannya juga kurang sesuai dengan harapan. Salah satu kunci penting peningkatan kualitas guru adalah dengan membangun budaya literasi. Literasi berarti budaya membaca dan menulis. Seorang guru yang mau terus membaca buku dan menulis memiliki peluang untuk semakin meningkatkan kualitas dirinya. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak pula karya yang akan dihasilkan, maka akan memiliki kontribusi penting bagi kemajuan pendidikan.

Sebelum menyampaikan apa yang menjadi kunci sehingga menjadi orang yang produktif dalam menulis, bapak yang menyelesaikan program S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengingatkan bahwa kunci hanya sebagai alat yang digunakan untuk menjadi seorang yang produktif, tetapi kunci tersebut tidak akan berguna apabila tidak digunakan, keterlibatan di dalam materi pada group menulis ini diibaratkan untuk mendapatkan kunci, tetapi jika hanya mendapatkan saja dan tidak dipraktikkan, tentu kunci itu kurang fungsional.

Adapun 6 kunci untuk menjadi orang yang produktif dalam menulis menurut beliau adalah:
1. MOTIVASI. Motivasi merupakan hal yang mendasari dalam menulis. Antara lain (1) Motivasi karir, artinya semakin mahir menulis maka semakin lancar karir yang kita tempuh, (2) Motivasi materi, dengan menulis akan menghasilkan honor karena bagi penulis yang sudah sangat terkenal akan mendapatkan honor yang melimpah, walaupun tidak banyak penulis yang seperti itu yang mendapatkan banyak materi karena menulis. (3) Motivasi politik, menulis ditujukan untuk mencapai tujuan politik tertentu, (4) Motivasi cinta, menulis karena memang mencintai aktivitas menulis, dan mungkin masih ada motivasi yang lain. Tetapi intinya motivasi yang kita punya untuk menulis akan sangat mempengaruhi terhadap tulisan atau buku yang akan dihasilkan.

2. MEYAKINI BAHWA MENULIS ADALAH ANUGERAH. Banyak orang yang mau menulis, tetapi tidak mampu mengerjakannya; bisa karena kesibukan atau sejuta alasan lainnya. Banyak yang sesungguhnya mampu menulis tetapi tidak mau menulis. Bisa menulis merupakan suatu anugerah yang harus disyukuri, dengan cara terus untuk menulis. Sebenarnya kegiatan menulis bukanlah hal yang baru bagi orang yang telah menyelesaikan studi baik itu S1, S2 atau S3, bila dihitung-hitung karya tulisan kita selama kuliah sudah sangat banyak bisa sampai ribuan halaman, meliputi pembuatan tugas makalah, laporan praktek/KKN, magang hingga skripsi. Sehingga tidak ada alasan sebenarnya untuk mengatakan tidak bisa menulis, kecuali selama kuliah tugas-tugasnya tidak dikerjakan sendiri ☺☺☺. Menulis membuat kita berbeda dari orang lain, sesederhana apapun buku yang kita hasilkan itu tetap memiliki kontribusi penting, jangan dengarkan nyinyiran yang tidak membangun, tetapi tetaplah menulis.

3. MENULIS MEMBERIKAN BANYAK "KEAJAIBAN" DALAM HIDUP. Dengan menulis memberikan banyak sekali manfaat, seperti yang dialami oleh Pak Wijaya Kusumah - Om Jay - seorang blogger, youtuber dan guru mengatakan bahwa "menulis setiap hari itu telah memberikan keajaiban dalam kehidupan". Dengan menulis kita akan : (1) mendapatkan materi, karena dengan rajin menulis bukunya akan mendapatkan banyak royalti. (2) sering diundang sebagai pembicara diberbagai forum. (3) memiliki banyak teman. (4) tetap dikenang. Tulisan adalah alat perekam kehidupan yang ajaib, artinya tulisan kita akan tetap ada walaupun kita sudah tiada.

4. TIDAK MUDAH MENYERAH.    
Banyak orang ingin menulis, tentu termasuk menulis buku, tetapi semangat menulisnya naik turun. Saat ikut kegiatan kepenulisan, semangat menulisnya berapi-api. Tetapi saat kembali ke dunia nyata, ke dunia kehidupan sehari-hari, semangat itu perlahan tetapi pasti memudar dan akhirnya hilang sama sekali. Saat bersemangat, menulis berlembar-lembar halaman dalam sehari terasa ringan. Saat tidak bersemangat, satu paragraf pun terasa berat sekali. Bahkan sangat mungkin berbulan-bulan tanpa menulis sama sekali. Jangan mudah menyerah dan rutinlah untuk tetap menulis karena menulis lima paragraf yang dilakukan rutin setiap hari jauh lebih baik daripada sepuluh halaman yang dilakukan tiga bulan sekali. Semua kebiasaan awalnya dipaksa, lama-lama akan terbiasa, bangun komitmen untuk rutin menulis dengan jadwal yang disusun dan ditaati.

5. BERJEJARING. Menjadi seorang penulis jangan menepi. Memang saat sekarang kita harus menepi karena Corona, tetapi bukan berarti tidak berinteraksi. Bangun jejaring kepenulisan. Ikut kegiatan group menulis juga dalam rangka berjejaring. Dengan memilki jejaring akan membuat semakin semangat karena adanya saling mengingatkan dan memotivasi untuk tetap menulis. Dengan jejaring juga kan meningkatkan kualitas tulisan karena kita akan selalu menyerpunakan tulisan kita dari hasil koreksi dan masukan dari teman yang lain.

6. MENULIS SEBANYAK-BANYAKNYA. Menulislah setiap hari tanpa henti. Lakukan secara terus-menerus. Jika Anda merasa tulisan Anda tidak baik maka dengan menulis setiap hari tulisan Anda akan otomatis menjadi baik. Dengan meluangkan waktu (bukan memanfaatkan waktu luang ☺☺☺) untuk menulis setiap hari sekitar 30 sampai 60 menit akan sangat bermanfaat dalam  membentuk kita menjadi seorang penulis. Jangan takut tulisan kita dikatakan jelek, tidak berkualitas dan lain-lain, tetapi tetaplah menulis setiap hari dan lihatlah apa yang akan terjadi.

Sungguh sangat luar biasa 6 kunci yang pak Doktor sampaikan, yang membuat saya semakin semangat untuk menulis. Di dalam sesi tanya jawab, pak Ngainun menjelaskan bahwa ada 4 tahapan rasa MALU dalam menulis, yaitu (1) MALU untuk menulis, (2) MALU kalau menulis dan tulisannya dibaca orang, (3) MALU sudah mulai hilang, pokoknya menulis dan (4) MALU KALAU TIDAK MENULIS. 

Menanggapi pertanyaan bagaimana kriteria tulisan yang baik, beliau menjawab : yang (1) harus SIAP DITULIS, karena sebagus apapun ide, jika belum selesai untuk ditulis ya belum bagus, (2) Minim salah ketik dan (3) Bahasa yang digunakan harus menarik dan didukug oleh logika berpikir, dan jika ingin diterima penerbit, ikutilah gaya dan kebijakan penerbit. 

Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang disampaikan perserta di group belajar menulis pada pertemuan malam ini, tetapi karena berketepatan malam ini adalah jadwal beliau harus ke dokter untuk periksa kondisi kesehatan maka pertanyaan yang ada disimpan dan diteruskan ke WA  beliau secara pribadi.

Dengan banyak belajar pengalaman dan pengetahuan dari para penulis yang sudah berpengalaman sangat memotivasi saya, karena dulu mereka  juga adalah penulis pemula, tetapi ketika serius dan berkomitmen akhirnya bisa menjadi penulis yang produktif. Semoga bisa mengikuti jejak beliau-beliau...

Hidup hanya sementara saja, Apakah sudah Produktif?

Hari ini saya ikut serta dalam acara pengebumian salah seorang bapak yang merupakan keluarga dari jemaat gereja dimana saya beribadah. Tidak terlalu banyak dihadiri oleh orang karena si bapak yang memang sudah lama tidak berada di kota sigambal ini, ditambah lagi mungkin karena kondisi covid-19 yang belum usai.

 
Acara adat yang bisanya panjang sehingga menyebabkan bisa selesai sampai sore, tetapi karena kondisi saat ini hanya berlangsung sekitar 2 jam. Sehingga tepat tengah hari jenazah sudah dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir. 

Ketika sampai di tanah wakaf, beberapa orang yang ikut serta dalam pengebumian ini menyempatkan untuk melihat kuburan keluarga mereka baik itu suami, opung doli (kakek), mertua dan keluarga yang lain, walaupun ada yang lupa persis dimana kuburan keluarganya itu, mungkin karena sudah lama tidak kesana, merekapun menemukan juga setelah mencarinya.

Satu kalimat dari seorang ibu diwaktu pulang dari pengebumian menyentakkan hati saya "semua sudah punya nomor antri, tinggal menunggu waktunya saja", ucapnya. Saya mengamini kalimat tersebut dan menanyakan ke hati saya yang paling dalam, apakah saya sudah produktif di dalam hidup saya sebelum waktunya Tuhan memanggil saya ?


Waktu begitu singkat dan sangat cepat akan berlalu, kita tidak tahu kapan sang Khalik akan memanggil,  tetapi pasti akan terjadi. Menggunakan waktu yang ada untuk berkarya merupakan kewajiban kita sebagai insan ciptaan-Nya, sehingga hidup kita menjadi produktif dengan  menghasilkan karya yang berguna untuk orang lain dan itu akan membuat kita menjadi berkat bagi sesama. 

Kamis, 02 Juli 2020

Aktivitas hari ini - Ngecat di Sekolah

Cuaca yang sangat terik pada hari ini, tidak memudarkan semangat kami untuk mengecat Alat Permainan Edukatif (APE) luar ruangan di sekolah PAUD GKPI Jeriko Sigambal, yang sebenarnya sudah kami rencanakan dari dua hari yang lalu. 


Ditemani istri yang merupakan kepala sekolah, saya sangat senang dan sepertinya momen ini jadi ajang libur keluarga karena anak-anak kami ikut serta. Dengan perpaduan warna merah, kuning, hijau, biru dan orange, alat permainan menjadi semakin menarik, dengan melihat warna-warninya rasa letih dan keringat yang bercucuran akibat panas yang sangat terik menjadi tidak terasa.



Hal ini kami lakukan untuk menyambut tahun ajaran baru yang akan dimulai pada tanggal 13 Juli 2020 yang akan datang. Walau belum tahu seperti apa nantinya proses pembelajaran semester ini, tapi kami tetap optimis, dengan sekolah yang rapi, bersih dan menarik akan memberikan kesejukan dan kenyamanan bagi siswa/i yang akan menjalani proses pembelajaran. Dan senantiasa berdoa supaya pandemi covid-19 cepat berlalu sehingga anak-anak bisa kembali belajar sambil bermain di sekolah PAUD yang tercinta ini.

Rabu, 01 Juli 2020

Belajar "freewriting" bersama Bapak M. Firman Suwarya

Pert ke -10 Belajar menulis melalui WAG


Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Itulah yang saya alami pada malam hari ini ketika mengikuti materi belajar menulis melalui WAG dengan narasumber Bapak M. Firman Suwarya M.Kom.

Selama tiga hari ini saya banyak berpikir tentang tulisan apa yang akan saya buat dalam rangka menerbitkan buku antologi tentang pendidikan karakter yang merupakan kelanjutan dari menulis buku antologi "pena digital guru milenial" yang sedang dalam proses editing. Sepertinya saya mengalami kebuntuan. Sebagai penulis baru, entah apa yang membuat saya memberanikan diri untuk bergabung dengan pak  Adi, pak Irwan dan bu Dita, tapi yang pasti ketika ada tawaran menulis buku tentang karakter, saya langsung merasakan ada hal yang mau saya bagikan bahwa karakter adalah hal yang harusnya dimiliki oleh setiap insan yang dihasilkan dari proses pendidikan.

Kalimat yang disampaikan pak Firman di awal pertemuan malam ini saya alami kemarin, saya berpikir dan hampir menyimpulkan bahwa bakat saya bukanlah seorang penulis dan itu saya sampaikan kepada istri saya. Pada malam ini saya tertegun, rupanya pengalaman yang sama pernah dialami oleh pak Firman yang sudah menerbitkan tiga buah buku solo dan delapan buah buku antologi dan telah menulis artikel di media surat kabar dan media online.

Materi yang dibawakan bapak yang mengajar di SMPN Unggulan Sindang Indramayu ini adalah tentang freewriting yaitu menulis cepat tanpa hambatan. Penyakit yang hampir menghinggapi semua penulis baik yang baru belajar atau mungkin yang sudah menjadi penulis handal biasanya menyerang ke pikiran, cirinya tiba-tiba ide yang kita punya hilang entah kemana, lalu bingung harus nulis apa lagi, puyeng dan sederet saudara-saudaranya, hehehe, dan nanti dampak endingnya kita akan capek, lelah malas untuk menulis. Terkadang saat malas menghinggapi, ketika mau menulis lagi, tiba-tiba mendadak mendapatkan ide yang baru padahal ide yang pertama belum selesai kita tulis, kemudian muncul kesimpulan jangan-jangan saya tidak ada bakat untuk menjadi penulis.... urai pak Firman membagikan pengalaman pribadinya. 

Tapi itu dulu, sejak mengenal freewriting beliau dapat mengatasinya walaupun tidak langsung keluar dan lolos dari penyakit-penyakit yang menimpa seorang penulis yang telah diuraikannya. Untuk memahami apa itu freewriting beliau mencontohkannya seperti seorang yang terlambat mengikuti menghadapi Ujian Nasional selama satu jam karena mengalami kemacetan. Apa yang harus dilakukan ditengah keterlambatan itu dengan jawaban yang masih sama sekali kosong? Jawabannya adalah Ngebut, berusaha fokus dengan berkejar-kejaran dengan waktu sampai kita menyelesaikan semua soal yang ada.

Di dalam menulis, pokoknya ada ide, langsung tuliskan, jangan sampai ide itu hilang, kapan dan dimanapun pokoknya tulis. Ketika kita mengalami penyakit-penyakit menulis seperti diatas solusi dari beliau adalah ketika ide muncul langsung tulis, sampai ending ide itu dimana pokoknya tulis, yang lupa lewat aja jika situasi tidak memungkinkan, baru kita cek dan ricek, meyangkut situasi ini berkaitan dengan waktu. Makanya kita harus meluangkan waktu bukan memanfaatkan waktu luang. Kita laksanakan secara kontiniu terus-menerus sekitar 30 sampai 60 menit setiap harinya, jawabnya ketika meresponi pertanyaan pembuka dari moderator.

Dalam menentukan ide, sering kita menemukan ide yang pas, yang kira-kira bagus untuk dibaca tetapi banyak pertimbangan, takut jelek, kurang bagus dan pertimbangan lainnya. Saran beliau, pokoknya ide itu ditulis dulu, baru kemudian kita harus membuat outline garis besarnya, kemudian menulis berdasarkan outline dengan alokasi yang sudah kita luangkan. Ketika ada ide baru ditengah kebuntuan dalam menuliskan ide yang pertama, sebaiknya selesaikan dulu ide yang pertama dengan satu tekad tulisan dari ide itu harus selesai, setelah tulisan selesai baru kita tuliskan ide yang baru, maka dari itu kita harus benar-benar bertekad dalam menyelesaikan satu tulisan.

Menulis dan editing adalah dua ilmu yang berbeda. Menulis dengan hati menghasilkan tulisan yang sederhana, karena tidak ada neko-neko biasanya tulisan itu akan membawa pembaca ke dalamnya. Intinya freewriting adalah menulis secepat-cepatnya terhadap ide yang muncul, jangan takut salah, jangan takut keliru, jangan takut hasilnya jelek, apalagi takut salah ketik, pokoknya tulis dan tulis sampai habis. Setelah itu barulah apa proses editing untuk mengoreksi hal-hal yang perlu diperbaiki, yang kurang pas dan kekurangan lainnya. Freewriting bukan berarti karena ngebut menjadi asal-asalan tetapi penekanannya pada ide yang muncul. Karena ide yang bagus dan berkualitas akan menghasilkan outline yang berkualitas maka hasil dari tulisan akan berkualitas. Dalam prakteknya menulis berkualitas terkadang menuntuk kita agar mengikuti, mematuhi dan lain-lain sebelum tulisan selesai ditulis, yang akhirnya tulisan tidak bisa kelar, ungkap beliau masih dalam sesi tanya jawab.

Diakhir pertemuan beliau menyampaikan "Rasa bosan adalah penyakit yang sangat berbahaya melebihi covid-19, hati-hati dan waspada dia menyerang dengan tiba-tiba maka kita harus pupuskan dengan coba lagi dan coba lagi. Sampai kapan kita harus mencoba? Jawabannya adalah sampai kita sukses.  

Sungguh sangat memotivasi saya apa yang beliau sampaikan malam ini, sebagai penulis pemula untuk tetap semangat menulis setiap hari.... Semangat !

Prsoses meberbitkan buku bersama Pak Joko Irawam Mumpuni

Ada hal berbeda dari belajar menulis malam ini, dimana biasanya narasumber memaparkan materi melalui tulisan, teteapi pak Joko Irawiran Mump...