Selasa, 29 November 2022

Adek El Bermain Pianika pada Latihan Natal

Pastilah semua orang tua bangga melihat anaknya tampil.

Saya juga demikian, saya sangat senang dan bangga atas keikutsertaan gadis kecilku pada persiapan Natal di sekolahnya.

Adek El yang masih kelas 1 SD, terpilih bersama dengan teman-temannya dari berbagai tingkatan kelas. Dia berada di barisan paling depan, meniup pianika dan memainkan jari-jari tangannya.
Walau badannya yang paling kecil dari semua yang tampil, tapi dia tetap semangat.
Semangat selalu boru hasian, semakin berkembanglah kiranya bakat dan talentamu...
Gbu



Berbagi pada Program Pelatihan Menulis IKAPEL

Berbagi...

Berbagi adalah hal yang sangat menyenangkan. Dengan berbagi akan memberikan manfaat, bukan hanya kepada orang yang dibagi tetapi juga bagi yang berbagi. Apalagi hal yang dibagikan tersebut bermanfaat bagi banyak orang.
Terima kasih buat IKAPEL, sudah memberikan kesempatan bagi saya untuk berbagi, semoga sedikit yang sudah saya sampaikan, bisa bermanfaat bagi semua yang mengikuti pertemuan malam ini.
Harapannya, apa yang menjadi target dari program ini tercapai, yakni menerbitkan sebuah buku yang berisikan kumpulan "Praktek Baik Pembelajaran dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka". Dan semoga kelak buku itu bisa menjadi sumber inspirasi.
Tetap semangat,
Tetap berbagi...




Senin, 07 November 2022

Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara


“Tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat." (Ki Hajar Dewantara)

Sebagai seorang guru yang sudah mengajar selama 15 tahun, ternyata masih banyak kekurangan yang perlu saya benahi dalam mendidik dan mengajar peserta didik. Saya banyak dievaluasi dan ditegur ketika mempelajari modul 1.1. dari Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 7. Yang mana modul ini membahas mengenai Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional, yang dikaitkan dengan pemikiran-pemikiran dari Bapak Ki Hajar Dewantara.

Sebelum mempelajari modul 1.1., dalam mengajar saya masih berpusat pada pikiran, kemauan, kehendak saya sendiri. Mempersiapkan dan menyampaikan materi dengan tujuan anak-anak bisa paham dan mendapatkan nilai yang baik (lulus KKM) ketika penilaian dilakukan.

Dalam belajar saya membuat sendiri aturan kelas selama pembelajaran, tidak ada kesepakatan kelas bersama dengan murid, baik itu mengenai disipilin memulai dan mengakhiri pembelajaran, pengerjaan dan pengumpulan tugas-tugas, penilaian, dan aturan-aturan lain di dalam kelas.

Saya juga berusaha sedemikian rupa agar semua materi dapat diajarkan kepada murid tanpa melihat karakteristik murid, tidak ada juga refleksi mengenai pembelajaran yang dilakukan, yang penting pada akhir semester semua materi tuntas dan segera membuat soal untuk Penilaian Akhir Semester (PAS) untuk diujikan ke anak-anak.

Dalam pembelajaran saya juga tidak mengakomodasi perbedaan yang dimiliki anak-anak. Saya berusaha supaya murid memahami semua materi dengan menggunakan cara pembelajaran yang sama, tidak memberikan kesempatan bagi murid untuk mengeksplorasi potensi dan minat yang berbeda pada masing-masing anak.

Saya juga belum mengaitkan pembelajaran dengan lingkungan murid berada, walaupun sudah memanfaatkan laboratorium sebagai tempat belajar, saya belum pernah membuat proyek pembelajaran yang sesuai dengan sosio-kultural di daerah murid tinggal.

Setelah mempelajari modul 1.1. pola pikir dan perilaku saya banyak berubah. Saya banyak mendapatkan pemahaman baru mengenai filosofis pendidikan dari pemikiran-pemikiran Bapak Ki Hajar Dewantara, hal tersebut menegur dan memperbaharui pola pikir dan perilaku saya sebagai guru.

Hal-hal yang diubah dalam diri saya antara lain: Bagaimana memandang murid. Saya semakin menyadari bahwa setiap murid memiliki kodrat masing-masing. Guru ibarat seorang petani yang bertugas menebar benih dan memeliharanya, tidak bisa mengubah jenis tanaman tersebut. Sehingga guru harus memahami karakteristik setiap murid, tidak memaksakan kehendak sendiri untuk dilakukan murid. Juga harus memberikan ruang bagi murid untuk mengeksplorasi potensi dan bakat yang ada pada dirinya.

Saya juga diingatkan untuk membuat kelas yang menyenangkan, sehingga murid merasa nyaman dan memiliki antusiasme untuk mengikuti pembelajaran. Karena menurut Bapak Ki Hajar Dewantara kelas adalah taman yang merupakan tempat yang memberikan rasa nyaman untuk belajar dan bermain bagi murid.

Belajar juga harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Hal ini juga mengingatkan saya supaya benar-benar memperhatikan bagaimana kondisi tempat tinggal murid berada, dan membuat strategi untuk menyesuaikan pembelajaran dengan sosio-kultural di daerah saya mengajar. Selain itu, saya juga diingatkan untuk mengajar sesuai dengan perkembangan zaman, dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dalam proses pembelajaran supaya murid mampu memiliki keterampilan Abad 21.

Hal lain yang menjadi pemahaman baru bagi saya adalah trilogi semboyan Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, yakni: Ing ngarso sung tulodho (di depan memberi teladan), ing madya mangun karso (di tengah membangun semangat, kemauan), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Seorang guru harus bisa menjadi contoh (melaui Tindakan dan perkataan), menjadi pemberi semangat dan dorongan bagi setiap murid. Dalam mendidik guru juga hendaknya menggunakan sistem among, artinya guru itu menjaga, membina dan mendidik anak  dengan penuh kasih sayang.

Ki Hajar Dewantara juga mengatakan bahwa “Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat”. Beliau memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Sehingga Pendidikan bukan hanya soal belajar untuk menjadikan murid pintar dan cerdas saja.

Budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Oleh sebab itu, Peran orang tua sebagai guru, penuntun dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.

Setelah mempelajari Modul 1.1., yang akan saya lakukan di kelas yang mencerminkan pemikiran Bapak Ki Hajar Dewantara adalah:

1. Menjadi role model di lingkungan sekolah dan masyarakat.

2. Belajar untuk memahami karakteristik setiap murid.

3. Membuat kesepakatan kelas berdasarkan kesepakatan bersama dengan murid.

4. Melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada murid. Pembelajaran yang menyenangkan dan memberi ruang bagi setiap murid untuk mengekplorasi dan mengembangkan bakat dan potensinya.

5. Menggunakan media pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan antusias murid dalam belajar.

6. Menggunakan Teknologi Informasi dalam proses pembelajaran.

7. Melakukan refleksi dalam pembelajaran.

8. Membuat proyek pembelajaran yang sesuai dengan sosio-kultural daerah tempat bertugas.

9. Menjalin komunikasi dengan orang tua murid dalam memperhatikan perkembangan pengetahuan dan budi pekerti murid.

Demikianlah Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara ini saya simpulkan, semoga saya mampu untuk menerapkannya. Terima kasih.

Tetap Semangat…

Tergerak… Bergerak… Menggerakkan…

Sabtu, 02 April 2022

Menulis, untuk apa?

 

Menulis bagi sebagian orang adalah hal yang tidak menarik, membosankan, dan sepertinya kegiatan ini adalah aktivitas orang yang kurang kerjaan. "Jangan hanya menulis saja kerjamu" Kalimat ini juga pernah sampai ke telinga saya, sebagai respon bahwa menulis sepertinya adalah hal yang tidak terlalu bermanfaat.

Pertanyaannya, apakah menulis benar-benar tidak bermanfaat? Atau menulis hanya kegiatan yang membuang-buang waktu saja? Saya bisa pastikan hal itu sangat-sangat salah. Justru kenyataanya, menulis memberikan manfaat yang begitu besar dalam meningkatkan berbagai kompetensi bahkan bisa mengubah hidup menjadi lebih kritis, terorganisir, dan semakin terarah. 

Berawal dari masa pandemi Covid-19, yang melanda dunia dan akhirnya sampai ke negara kita. Banyak waktu luang di rumah, berbagai aktivitas ke luar pun dibatasi. Akhirnya saya mencoba untuk bergabung dengan pelatihan kepenulisan yang diadakan secara online melalui WhatsApp Grup. Pelatihan itu diprakarsai oleh PGRI Pusat, dalam hal ini dikomandoi oleh Bapak Wijaya Kusumah yang akrab dipanggil Om Jay.

Awalnya saya tidak pandai dalam merangkai kata, mungkin karena latar belakang pendidikan saya adalah Fisika non kependidikan, jurusan yang banyak bergelut dengan angka-angka dan rumus, sangat jarang bersentuhan dengan pembelajaran berbahasa atau tulis-menulis. Tetapi melalui proses, akhirnya saya lama-kelamaan terbiasa, bahkan sampai sekarang menulis sepertinya sudah menjadi suatu kebutuhan.

Apakah menulis harus langsung sempurna? Tentu tidak, semua perlu proses. Ketika awal belajar menulis, saya hanya bisa menuliskan resume (ringkasan) pertemuan pelatihan dengan beberapa kalimat saja. Memang ketika itu kami "dipaksa" untuk menulis resume setiap mengikuti pelatihan yang dilakukan tiga kali dalam seminggu. Sampai akhirnya, pertemuan ke-20 bisa saya lalui, dan resume selama 20 kali pertemuan bersama pegiat-pegiat literasi Indonesia tersebut, akhirnya menjadi buku solo perdana saya.

"Saya malu karena tulisan saya kan jelek, tidak berkualitas, sangat kaku, tidak ada bagusnya" Beberapa hal ini adalah wajar bagi pemula, tetapi itu harus dibuang, karena itu bisa membuat kita akhirnya mundur, dan berhenti menulis. Semua pasti melalui proses, penulis hebat saat ini pastilah dulu juga mengalaminya, ketika dia mulai belajar menulis. Tetapi akhirnya mereka terus belajar, tidak menghiraukan respon negatif dan cibiran-cibiran yang bisa membuat nyali mereka ciut.

Kembali ke pertanyaan sekaligus judul di atas, menulis untuk apa?  Tentu saja untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas hidup orang yang menggelutinya. Saya yang dulunya banyak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna, akhirnya berkat menulis semakin menyadari bahwa waktu hidup saya terbatas, saya harus menulis dan berbagi ilmu dan kebaikan sebanyak-banyaknya melalui tulisan-tulisan yang ada. Suatu saat kita akan tiada, tetapi tulisan akan tetap abadi, memberikan dampak bagi setiap pembacanya.

Tidak ada lagi waktu berleha-leha, tidak ada lagi waktu yang sia-sia. Semakin sibuk semakin bisa mengatur waktu sedemikian rupa. Itulah dampak yang sangat-sangat saya rasakan saat ini. Ditambah lagi dengan giat menulis, membuat wawasan semakin berkembang, hal ini karena kegiatan menulis memaksa untuk banyak membaca karya dari para penulis lainnya.

Lebih fokus untuk belajar menjadi berkat bagi orang lain. Ya, dengan aktif menulis, saya semakin manyadari bahwa hidup harus bisa berdampak dan memberikan manfaat bagi orang lain. Bukan lagi hanya memilirkan diri sendiri. Belajar terus berbagi dan saling memotivasi, dengan harapan semakin banyak orang yang bisa menghasilkan berbagai karya, yang tentunya itu akan berdampak bagi kemajuan bangsa. 

Terima kasih buat hari ini. Kesempatan yang Tuhan beri kembali untuk berbagi. Bagi calon-calon pembaharu negeri. Semoga sedikit motivasi, bisa menggerakkan setiap pribadi, untuk mau memberi diri. Giat berkarya bagi negeri, menjadi pegiat-pegiat literasi 

Sebagai penutup, saya kembali menyampaikan bahwa giat menulis tidak ada ruginya, yang ada adalah kita rugi kalau tidak mau menulis.  Semangat

Sigambal, 2 April 2022, pukul 23.47 WIB

Postingan Terbaru

Janji kepada Ilahi

Komitmen adalah janji. Janji yang seharusnya selalu ditepati. Tetapi seringkali komitmen hanya ilusi, hanya sebagai ucapan yang tidak diinga...

Postingan Terpopuler dalam sebulan ini