Senin, 17 Mei 2021

Bangkit dari Keterpurukan



Setiap kita pasti pernah menghadapi permasalahan hidup. Bahkan saat ini kita mungkin sedang mengalaminya. Permasalahan, pergumulan, penderiataan atau pun persoalan yang membuat kita menjadi putus asa, menyerah, pasrah bahkan stres karena terlalu larut dalam permasalahn tersebut. Ya, sepertinya tidak ada lagi jalan keluar, sudah buntu, tidak ada harapan dan semangat dalam menjalani kehidupan.

Sebagai editor buku, saya sangat-sangat bersyukur banyak membaca kisah dan pengalaman dari para penulis yang bukunya saya edit. Berbagai kisah yang dialami sendiri oleh penulis membuat saya kadang tersenyum, terharu bahkan  sampai meneteskan air mata pada saat membaca cerita yang begitu menggugah hati. 

Demikianjugalah ketika malam ini saya mengedit sebuah buku antologi bertemakan "PATAH HATI", buku yang ditulis sebelas penulis dengan nuansa hati yang beragam dan cerita yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang pernah mereka alami, tetapi semuanya masih terkait dengan cerita tentang "PATAH HATI".

Uniknya cerita yang ada bukanlah hanya cerita tentang putus cinta seperti yang kubayangkan sebelumnya. Selain tentang cerita cinta yang pupus di tengah jalan karena ditinggalkan sang kekasih hati, terdapat juga cerita patah hati karena ditipu oleh sahabat yang selama ini sudah dianggap seperti keluarga sendiri, juga cerita ketika tidak diterima bekerja dari banyaknya lamaran pekerjaan yang telah dilayangkannya ke berbagai perusahaan karena cacat yang dialaminya.

Juga terdapat cerita yang sangat menggugah hati dan membuat haru karena penulis merasakan patah hati yang sangat mendalam karena ditinggal selamanya oleh ibunda dan juga sahabat yang sangat dicintainya. Dan ada beberapa cerita patah hati lainnnya yang menggambarkan suasana hati yang sangat terpukul, tertekan bahkan sangat sakit ketika harus mengalami semua kenyataan yang terjadi.

Tetapi semua penulis bukan hanya menceritakan segala kesakitan yang mereka rasakan, justru hal yang luar biasa adalah adanya suatu komitmen untuk bangkit. Ya, bangkit dari keterpurukan yang ada. Tidak lagi fokus kepada persoalan dan sakit hati yang ada di dada. Tetapi memandang ke depan dengan optimis. Bahkan ada seorng penulis yang mengatakan bahwa "Patah Hati itu belati yang meretas jalan menuju sukses".

Semua mereka sepakat bahwa ketika persoalan hadir, bahkan walaupun hati  sudah hancur berkeping-keping, kita harus tetap bangkit. Orang yang diputuskan bahkan ditinggalkan oleh pujaan hatinya, harus berani memandang ke depan dan percaya bahwa ada sosok pasangan yang lebih baik lagi yang Tuhan telah sediakan baginya, bahkan hal itu mengingatkannya untuk hijrah ke pada cinta yang sesungguhnya, yaitu cinta kepada Allah penguasa langit dan bumi.

Orang yang pernah ditipu orang lain, membuatnya untuk lebih berhati-hati dan tidak mudah dalam mempercayai orang lain di kemudian hari. Yang lamaran pekerjaannya selalu ditolak oleh perusahaan justru memotivasi dirinya untuk berusaha sendiri dengan menghasilkan karya yang inovatif dan bermanfaat bahkan sampai ke luar negeri. Banyak tantangan yang membuat mereka patah hati, tetapi mereka tidak mau patah semangat. Yang pasti ketika saya membaca semuanya, membuat saya semakin semangat dalam menjalani hari-hari. 

Dan memang itulah kenyataan hidup yang sedang dan akan selalu kita alami. Pasti masalah akan datang silih berganti, pergumulan hidup akan selalu menguji. Dan semuanya kembali ke pada diri sendiri. Ingat, patah hati bukan berarti kehidupan akan berhenti, tetapi akan terus berjalan. Tinggal bagaimana kita memaknai semua yang terjadi, supaya cerita patah hati justru menjadi inspirasi. Seperti yang telah dituliskan oleh para penulis hebat di buku yang sedang saya edit ini.

Ayo... Tetap semangat... Segera bangkit dari keterpurukan...  

Jumat, 07 Mei 2021

Corona semakin merajalela...


Hampir satu setengah tahun sudah dunia ini dilanda virus corona. Sepertinya belum ada tanda-tanda untuk segera mereda. Bahkan akhir-akhir ini, di berbagai negara wabah corona semakin merajalela. 

Salah satu negara yang saat ini mengalami Tsunami corona adalah India. Ya, dilaporkan bahwa kasus inveksi covid-19 di negara tersebut mencapai 400.000 kasus dan tingkat kematian hampir 4000 orang perhari. Sungguh sangat menyedihkan mendengarnya. 

Seluruh negara di dunia sudah berjaga-jaga. Mewaspadai adanya perkembangan varian virus baru yang muncul seperti varian Inggris (B.1.1.7), varian India (B.1.6.1.7) dan varian Afrika Selatan (B.1.3.5.1). Ditambah lagi dengan peningkatan penularan yang terjadi di beberapa negara seperti Bhutan dan Nepal.

Soal penyebaran corona memang sudah nyata ada di mana-mana. Hal itu tidak bisa dibantah lagi. Corona memang nyata. Keluarga, tetangga, teman kerja, dan sahabat kita sudah ada yang jadi korbannya. Dengan berbagai cerita yang sudah kita dengar secara langsung, ada yang terinfeksi dan kemudian sembuh, tetapi tidak sedikit juga yang nyawanya tidak bisa diselamatkan. 

Kecuekan, ketidakpercayaan atau mungkin karena kejenuhan menyebabkan masyarakat sepertinya tidak lagi terlalu peduli dengan bahaya corona. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang tidak mengikuti anjuran untuk melakukan protokol kesehatan yang sudah berulang-ulang disampaikan. 

Memulai dari diri sendiri adalah langkah yang bijak. Ketika semua sudah memulai dari diri sendiri untuk menaati aturan protokol kesehatan maka hal itu akan sangat berdampak dalam memutus rantai penyebaran covid-19. Ya, perjuangan tidak akan berhasil hanya oleh satu dua orang, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan penuh kesadaran. 

Hal yang juga sangat penting bagi kita adalah menjaga iman dan imun. Iman akan menjadikan kita tetap optimis dan percaya bahwa pandemi covid-19 pasti berlalu dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan juga menjaga imun supaya tubuh kita tetap terlindung dan terbebas dari sergapan si corona.

Sampai kapan pandemi ini berakhir? Tidak ada yang bisa memastikannya. Tetapi apakah kita akan membiarkan semuanya terjadi, sehingga akan menelan semakin banyak korban jiwa? Sangat diperlukan kesadaran yang sungguh-sungguh dari kita semua, jangan sampai ada kata menyesal di kemudian hari.

Jangan lengah... Ikuti protokol kesehatan... Tetap jaga iman dan imun...

Rabu, 05 Mei 2021

Jangan dustai Nuranimu...


Jangan dustai Nuranimu

Perjalanan hidup memerlukan suatu pedoman
Ya, pedoman yang menjadi patokan dalam melangkah
Karena itulah dasar untuk menentukan pilihan
Yang sangat mendasar ketika menentukan arah

Hiruk pikuk dan suara bising di sekeliling 
Kadang mengaburkan suara hati yang murni
Suara-suara penuh rayuan yang selalu terngiang
Menimbulkan kebimbangan di dalam hati

Memang perlu pertimbangan matang
Dalam menentukan suatu keputusan
Jangan salahkan nasib yang malang 
Ketika asal dalam menentukan pilihan

Ketenangan dan kekhusyukan hati
Sangat diperlukan untuk mengambil langkah pasti
Karena hati tidak akan pernah mengingkari
Tindakan yang tulus yang penuh arti

Jangan dustai nuranimu
Ikuti kata hatimu
Itulah jalan terbaik untukmu
Yang akan memberikan kebahagiaan bagimu

                                                               Rantauprapat, 5 Mei 2021

Jumat, 30 April 2021

Hentikan membentak anak...

(Sumber gambar: kumparan.com)

Sebagai orang tua, tugas dan tanggung jawab dalam mengasuh dan mendidik anak cukuplah berat. Ada berbagai cara yang dilakukan dalam mengajar dan mendidik anak. Semua itu dilakukan dengan harapan yang sama, yakni merindukan kelak anak akan menjadi orang yang berhasil dan bisa menjadi kebanggaan bagi orang tuanya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa peran orang tua dalam mendidik anak bukanlah tugas yang sederhana. Diperlukan kesabaran dan keikhlasan, walaupun sering kali kita tidak sadar melakukan hal yang tidak seharusnya kita lakukan kepada anak. Ya, salah satunya adalah membentak anak. Hal itu mungkin pernah bahkan mungkin sering kita lakukan.

Kita harus sadar bahwa tindakan membentak anak adalah hal yang harus dihindari, khususnya bagi anak yang berusia 7 tahun ke bawah. Mengapa? karena pada masa tersebut adalah tahapan penting proses perkembangan otak pada manusia. Bentakan yang diterima anak akan sangat mempengaruhi perkembangan psikologis dan perkembangan pada otaknya, bahkan dikatakan bahwa bentakan-bentakan yang diterima bisa merusak sel-sel otak pada anak.

Adapun dampak dari bentakan yang sering diterima akan sangat mempengaruhi sikap dan psikologisnya. Anak akan menjadi orang yang minder dan takut mencoba hal-hal yang baru, menjadi pribadi yang peragu, memiliki sifat pemarah, egois dan penantang, keras kepala dan tidak mau menerima nasehat orang lain, menjadi pribadi yang tertutup, menjadi orang yang apatis, dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Perlu kita ketahui bahwa sel otak akan berkembang sesuai dengan stimulus yang sampai ke otak. Oleh karena itu seharusnyalah kita memberi stimulus yang bisa mendukung perkembangan otak secara maksimal. Bagaimana caranya? Caranya dengan sebisa mungkin mendidik anak dengan melakukan pendekatan emosional dengan penuh kehangatan dan menghindari bentakan kepada anak.

Mendidik anak memang tidak semudah mengatakannya, tetapi kita harus berusaha karena anak adalah aset yang sangat berharga bagi kita. Ketika tindakan anak belum sesuai dengan yang kita harapkan, berusahalah menahan diri dan janganlah membentaknya. Berusahalah mendidik dan mengajarinya dengan penuh kasih sayang dan masuklah ke dalam dunianya dengan penuh keceriaan, karena hal itulah yang akan mendorongnya menjadi pribadi yang berkembang secara sempurna.

Postingan Terbaru

Janji kepada Ilahi

Komitmen adalah janji. Janji yang seharusnya selalu ditepati. Tetapi seringkali komitmen hanya ilusi, hanya sebagai ucapan yang tidak diinga...

Postingan Terpopuler dalam sebulan ini