Sabtu, 05 Juni 2021

Berkarya Tanpa Batas...


Hanya ungkapan syukur kepada Tuhan Sang Pencipta dan Pemelihara hidupku. Kusampaikan syukur yang sangat mendalam. Ya, begitu luar biasanya kasih-Nya sehingga diberikan kesempatan yang tidak pernah terpikirkan olehku. Hal yang sangat luar biasa ketika pada hari ini menjadi Narasumber pada kegiatan Pelatihan Menulis Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung.

Selama dua minggu sebelumnya, kekuatiran menimpaku. Keraguan dan ketakukan bagaimana nantinya pada hari-H. Apa yang harus kusampaikan, aku tidak mampu. Tetapi komitmen untuk berbagi dan berkarya itulah yang menguatkanku. Untuk berani melangkah maju, tidak boleh gentar. Percaya bahwa ketika melakukan suatu hal yang tujuannya untuk kebaikan, pastilah Tuhan mampukan.

Malam ini semuanya terasa lempang, akhirnya semuanya berjalan dengan lancar. Pengalaman pertama menjadi Narasumber melalui Zoom Meeting. Memang sudah empat kali menjadi Narasumber pada kegiatan menulis online, tetapi menggunakan aplikasi WhatsApp. Pastilah berbeda, karena kalau melalui WhatsApp, saya hanya membagikan teks sehingga bisa lebih santai. Sangat berbeda dengan hari ini, seperti di kelas nyata, menjabarkan materi secara langsung kepada peserta.

Dihadapan 170-an peserta memaparkan materi, sungguh pengalaman yang luar biasa. Antusias peserta yang didominasi mahasiswa IAKN. Ya memang sekitar 80% peserta adalah mahasiswa, dan sisanya adalah guru. Saya senang bisa berbagi dan berdiskusi dengan para peserta, dan hari ini seolah-olah beban dan tanggung jawab untuk selalu berbagi dan membantu orang lain semakin terasa dan bergelora.

Guru adalah tonggak penentu maju mundurnya suatu bangsa, oleh karenanya melalui webinar kali ini ditekankan supaya para guru sadar akan tanggung jawab yang besar yang dipikulnya. Guru tidak boleh anti dalam belajar, tetapi harus menjadi contoh bagi peserta didiknya. Guru harus menjadi inspirasi melalui apa yang dilakukannya, bukan hanya dari ucapan semata.

Banyak hal yang harus diperbaiki, banyak hal yang harus diperbaharui dan banyak hal yang harus diperlengkapi. Guru tidak boleh terlena, tidak boleh manja, tidak boleh malas untuk berkarya. Guru berkarya, dimulai dari diri sendiri yang mau bangkit dan memperlengkapi diri. Semoga guru-guru sadar dan mau mengambil bagian untuk memajukan bangsa dengan karya yang menginspirasi.

Ini adalah langkah pertama dari langkah ke-seribu yang harus dilalui. Harus berani menatap terus ke depan, pantang goyah, dan terus memperlengkapi diri.  Yakin bahwa ada kesempatan dan tantangan yang lebih besar lagi yang sudah disiapkan untuk kita lakoni. 

Maju terus pantang mundur, semangat tidak boleh kendur...

Ayo tetap atur nafas, untuk berkarya tanpa batas...

Kamis, 03 Juni 2021

Endorsement Buku "Ibu Mulyani, S.Pd."


“Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.” (JK Rowling). Untaian kalimat di atas merupakan kata bijak yang sangat relevan dan telah diterapkan Ibu Mulyai, S.Pd.  Ibu Guru hebat ini telah membuktikan bahwa menulis bukanlah hal yang sulit, karena kuncinya adalah niat, ketekunan, dan konsistensi. Secara khusus pada masa pandemi saat ini, merupakan momentum yang sangat tepat karena memberikan kesempatan yang sangat luas untuk melatih diri dengan menulis, menulis, dan menulis.

Buku “Berdaya Menghadapi Tantangan Era Pandemi” ini membuktikan kepada kita bahwa sebenarnya banyak ide yang bisa dituangkan dalam tulisan. Apa saja yang kita alami bisa menjadi topik dalam tulisan, maka ketika ada ide langsung tuliskan sebelum ide itu hilang. Bahkan di tengah badai corona sekalipun yang menurut sebagian orang adalah musibah, menyimpan makna yang cukup berharga. Itulah yang diuraikan penulis di dalam buku yang luar biasa ini.

Berbagai hikmah di masa pandemi Covid-19 beliau uraikan dengan kata-kata yang berasal dari hati. Perjuangan seorang guru yang tidak pernah menyerah dengan situasi yang ada dengan mencoba hal-hal baru hanya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, juga sosok guru yang senantiasa memperlengkapi diri dengan ilmu-ilmu baru sebagai tuntutan bagi seorang guru professional dengan mengikuti Program WIT 2020, sampai kepada cerita musibah yang harus dihadapi keluarga pada masa pandemi. Sungguh rangkaian cerita yang sangat mengandung banyak inspirasi.

Segera baca buku bagus ini, dapatkan berbagai inspirasi yang ada di setiap lembaran-lembaran buku yang Anda baca…

 

Sahat Serasi Naibaho, S.Si.,Gr.

Penulis, Editor Buku

Guru SMPN 2 Dolok Sigompulon


Kamis, 27 Mei 2021

Tantangan Pendidikan di Era 4.0


Tantangan pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0, merupakan materi yang disampaikan oleh Bapak Indra Charismiadji pada pelatihan MBPF malam ini. Bersyukur ikut menyimak materi yang begitu lugas dan jelas yang disampaikan oleh narasumber kali ini yang merupakan seorang praktisi, pemerhati dan juga pakar teknologi pendidikan.

Malam hari ini sangat berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Kalau lima pertemuan sebelumnya fokus pada materi tentang menulis, yang tentunya bertujuan untuk menggelorakan semangat menulis kepada setiap peserta. Tetapi kali ini narasumber yang merupakan sosok yang fenomenal di dalam dunia pendidikan kita membukakan wawasan para peserta terkait dengan "Pendidikan di Era 4.0", baik tantangan dan bagaimana cara yang harus dilakukan khususnya para guru dalam menyikapinya tantangan pada masa Revolusi Industri 4.0.

Mengawali pemaparannya, beliau membukakan tentang perubahan akibat perkembangan zaman yang terjadi. Dari masa ke masa akan terjadi perubahan, khususnya yang kita alami saat ini yang disebut dengan masa Revolusi Industri 4.0.  Teknologi saat ini telah melahirkan hal-hal yang baru yang tentunya belum pernah kita dengarkan sebelumnya. Seperti istilah: Big data, 3D printing, M2M, Advanced robotics, dan lain sebagainya menggambarkan perubahan yang tentunya menuntut dunia pendidikan dalam mempersiapkan peserta didiknya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan yang ada.


Beliau juga menyampaikan perubahan yang terjadi menghasilkan tantangan baru. Melalui kajian dari McKinsey Globa Institute pada tahun 2030 diperkirakan ada 800 juta manusia yang pekerjaannya akan digantikan oleh teknologi, robot, mesin komputer, atau kecerdasan buatan. Hal tersebut mengakibatkan sekitar 375 juta manusia akan beralih dan menekuni pekerjaan yang baru.  


Data Institute of Museum & Library Services mengungkapkan perbedaan pekerja pada abad 20 dengan abad 21. Ketika di abad 20 seseorang sangat jarang berganti pekerjaan, biasanya hanya berganti sekali seumur hidup, sehingga paling tidak seorang pekerja hanya menekuni maksimal 2 jenis pekerjaan. Sangat berbeda dengan kondisi pada abad 21, dimana rata-rata setiap pekerja harus menekuni 10 sampai 15 jenis pekerjaan, hal ini tentunya karena tuntutan perkembangan teknologi yang selalu dinamis.

Kompetisi dalam mendapatkan pekerjaan juga sudah berubah, dulunya kompetisi hanya bersifat lokal tetapi sekarang kompetisi bersifat global atau mendunia. Siapa pun saat ini bisa menjadi pekerja di semua negara, asalkan memiliki kompetensi yang mumpuni. Dan hal yang harus menjadi perhatian serius dalam mempersipkan generasi yang akan datang adalah pernyataan dari World Economic Forum (2018) yang menyatakan bahwa "65% siswa yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar akan bekerja pada bidang yang hari ini belum tercipta".

Melihat data di atas muncul pertanyaan, seperti apa manusia yang akan mampu menghadapi perkembangan yang terjadi? Pastilah hanya manusia-manusia yang berkompeten atau yang disebut memiliki nalar dan keterampilan abad 21. Lantas siapa yang meyiapkan mereka untuk bisa menghadapinya? Tentunya beban berat itu ada di atas pundak guru sebagai profesi yang bertugas mempersiapkan SDM yang berkualitas.  


Untuk menghasilkan peserta didik yang bernalar dan berketerampilan abad 21, diharapkan dalam proses pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang hanya mampu menghapal (C1), memahami (C2), dan mengaplikasikan (C3). Karena suatu saat manusia-manusia dengan kemampuan sebatas sampai C3 akan digantikan oleh komputer, bahkan komputer lebih pintar dari manusia kalau sebatas menghapal, memahami dan mengaplikasikan.

Kemampuan menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), sampai pada tahap mencipta (C6) itulah yang dibutuhkan pada diri peserta didik kita saat ini. Tentunya dengan terbiasa menganalisa, mengevaluai bahkan membuat sesuatu hal yang baru akan membuatnya menjadi pribadi yang unggul dan mampu bersaing. 

Dalam diri seseorang yang sudah memiliki kemampuan C4, C5, sampai C6 (dinamakan kemampuan berpikir tingkat tinggi) terdapat empat karakter yang tertanam dalam dirinya yakni: kritis dalam berpikir, kreatif, memiliki kemampuan berkolaborasi dan berkomunikasi. 

Memang dalam menerapkannya tidak semudah mengatakannya. Apalagi dengan perbedaan kualitas dan berbagai permasalahan yang ada di setiap satuan pendidikan di negara kita. Tetapi ini menjadi suatu tantangan besar bagi setiap pendidik yang menyatakan diri sebagai seorang guru profesional. Setidaknya setiap guru terlebih dahulu menerapkan dan memiliki memampuan bernalar dan berketerampilan abad 21 seperti yang telah diuraikan di atas, kemudian menularkannya kepada setiap peserta didiknya.

Satu hal sederhana tetapi memiliki makna yang dalam ketika Bapak narasumber memberikan contoh seorang guru yang selalu menyuruh anak didiknya untuk selalu belajar, pertanyaannya apakah guru tersebut sudah terlebih dahulu melakukannya dengan terus belajar untuk memperlengkapi dirinya untuk menjadi guru yang benar-benar guru? Mari kita renungkan bersama...

Selasa, 25 Mei 2021

Resume Terbaik "Menulis untuk Berkarya"



"Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?" -K.H. Wahid Hasyim- 


Kata bijak di atas selalu terngiang jelas. Kalimat yang senantiasa menggerakkan raga untuk selalu memanfaatkan waktu yang ada untuk terus berkarya... berkarya... dan berkarya.

Saya sangat senang ketika diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman di kelas Menulis Bersama Pak Naff (MBPN) kemarin malam. Semoga apa yang saya sampaikan menumbuhkan bibit-bibit baru pegiat literasi khususnya di Sumatera Barat, sebagai tuan rumah kegiatan ini diselenggarakan. 

Saya tidak akan panjang lebar menguraikan tentang materi yang sudah disampaikan tadi malam, karena sudah ada resume yang dituliskan oleh peserta pada pelatihan tersebut. Ya, memang saya memberikan tantangan untuk menulis resume pertemuan tersebut. Karena ketika membuat resume, peserta langsung diajak untuk terjun menulis. Jadi pelatihan menulis bukan hanya sekedar teori saja.  

Selamat buat Ibu Darma Aswita, yang karyanya terpilih sebagai resume terbaik. Semoga bingkisan yang sudah saya kirimkan memberikan motivasi buat ibu untuk terus berkarya. Buat peserta lainnya yang juga telah mengirimkan resumenya tetapi belum beruntung, saya juga mengucapkan terima kasih dan tetap semangat dalam menghasilkan karya. 
  
Ayo kita simak resume dari Ibu Darma Aswita berikut ini:



Menulis untuk Berkarya

Menulis berarti menuangkan pikiran kita ke dalam sebuah tulisan. Hingga akhirnya menjadi sebuah karya yang dapat dinikmati oleh si penikmat bacaan.

Suaat kita memutuskan menjadi seorang penulis, berarti kita sudah berani melawan ketakutan kita dalam menulis. Itu berarti kita sudah memiliki niat untuk menjadi seorang penulis sejati. 

Namun, ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis. Seorang inspirator dalam kelas Menulis Bersama Pak Naff (MBPN), yang bernama Bapak Sahat S Naibaho mengemukakan beberapa hal yang diperlukan seorang penulis. 

Berikut hal-hal yang diperlukan seorang penulis:

1.      Niat
Semuanya dimulai dari niat. Apapun kegiatan yang akan kita kerjakan tentulah harus ada niat. Jika seseorang tidak memiliki niat menjadi penulis, maka dia tidak akan jadi penulis. Menjadi penulis tidak harus memiliki bakat, namun yang dibutuhkan adalah niat dan tekad yang kuat. Diawali dari niat dan tekad, disitulah kita bisa menjadi seorang penulis.
Niatkan saja dulu, siapa tahu dengan niat kita yang kuat kita bisa menjadi penulis terkenal. Untuk menimbulkan niat menjadi penulis. Tentu kita memiliki alasan ataupun tujuan menjadi seorang penulis.

Alasan yang pertama bisa berorientasi material. Dimana kita berniat untuk mencari royalti dari penjualan buku yang telah kita tulis, atau pun jadi pembicara di acara-acara seminar mengenai buku kita.

Alasan kedua orientasi eksistensial, dimana bertujuan agar kita dikenal oleh masyarakat. Dalam hal ini bertujuan untuk mengejar popularitas. Menjadi penulis maka secara tidak langsung kita akan dikenal oleh banyak orang. Apalagi tulisan kita termasuk kategori best seller. Bisa dipastikan nama kita akan dikenal di seluruh penjuru Negeri.

Alasan selanjutnya adalah orientasi personal, orientasi sosial, dan orientasi spiritual. Orientasi personal berarti kita berniat menjadi penulis untuk mengekspresikan perasaan kita. Dengan menulis kita dapat menuangkan pengalaman yang kita alami. Ataupun menuangkan ide dan imajinasi kita ke dalam sebuah tulisan.

Sedangkan orientasi sosial berarti tujuan kita untuk merubah cara berpikir orang ataupun pandangan orang lain. Kita mengajak seseorang untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga orang lain terpengaruh dengan tulisan kita.

Terakhir orientasi spiritual, tujuannya semata-mata untuk beribadah dan menyebar kebaikan. Mengajak pembaca untuk melakukan kebaikan. Baik kepada diri sendiri, orang lain, ataupun kepada lingkungan.

Dengan jelasnya tujuan kita dalam menulis, maka niat kita untuk menulispun akan semakin kuat.
Jadi, sudahkah kamu memiliki niat untuk menulis?
 
2.      Komitmen
Setelah kita memiliki niat. Maka berkomitmenlah dengan niat yang telah ditetapkan. Komitmen merupakan salah satu langkah kita menjadi penulis. Komitmen dengan diri sendiri untuk selalu belajar dan rutin dalam menulis. Komitmen berarti kita berjanji pada diri sendiri untuk menepati apa yang telah kita niatkan. Buatlah komitmen untuk menulis setiap hari. Jika sudah terbiasa menulis setiap hari, melewatkan satu hari saja tanpa menulis maka akan terasa hambar dan hampa. Ibarat makan sayur tanpa garam. Hambar.

Tetaplah berkomitmen dalam menulis. Seperti kata bu Ditta "Milikilah mental seorang penulis yang pantang menyerah". Walaupun banyak halangan ataupun rintangan jangan takut gagal, coba lagi. Semuanya hanya soal jam terbang. Semakin banyak kita latihan, maka akan semakin terasah keterampilan kita dalam menulis. Exercise make perfect, jika kita sering latihan maka akan menghasilkan kesempurnaan.
 
3.      Bergabung dengan komunitas menulis
Niat sudah ada, komitmenpun sudah dibuat. Lalu bergabunglah dengan komunitas menulis. Buat apa? Nah, pak Sahat menjabarkan bahwa dengan kita bergabung dalam komunitas, semangat kita dalam menulis akan terpelihara. Ibarat kita berteman dengan penjual parfum, wanginya juga akan sampai ke kita kan? Begitulah tujuannya.

Dengan bergabung dalam komunitas menulis kita akan saling memotivasi, saling mendukung, dan saling memperbaiki tulisan-tulisan yang kita buat. Bahkan kita bisa menjadi editor untuk teman kita dan sebaliknya.
Jadi, janganlah ragu untuk bergabung dalam komunitas.
 
4.      Ikut menulis di buku antologi (bersama)
Tujuannya agar kita terlatih dan memacu semangat kita untuk menerbitkan buku solo. Jika kita terbiasa menulis antologi, hal ini akan memberikan pengalaman berharga untuk kita dalam menulis buku solo. Kita juga akan terlatih mengedit tulisan-tulisan kita sebelum diterbitkan ke penerbit.

5.      Banyak membaca
Membaca menjadi salah satu point penting untuk menjadi penulis. Semakin banyak kita membaca, maka pembendaharaan kata kita akan semakin meningkat. Dengan membaca, kosa kata yang baru akan terekam dalam otak kita. Sehingga, saat kita menulis, kosa kata tersebut akan muncul dengan sendirinya. Selain itu, tulisan kita juga akan semakin bervariasi dengan banyaknya kosa kata. 

Tidak rugi jika rajin membaca, tidak hanya dapat ilmu tetapi pembendaharaan kata juga bertambah. Tulisan kita juga semakin variatif. Dan yang terpenting keterampilan menulis kita semakin terasah. Jadi, masih malas untuk membaca?
 
6.      Menulislah dengan hati
Menulislah dengan hati berarti menulislah dengan sepenuh perasaan. Tujuannya agar tulisan yang kita tulis sampai kepada pembaca. Agar tulisan kita memiliki ruhnya sendiri. Jika tulisan kita telah memiliki ruhnya sendiri maka tujuan kita sampaj kepada si pembaca. Akan memberikan kesan yang mendalam kepada pembaca.
 
7.      Belajar tata cara penulisan yang baku dan benar
Saat menulis perlu kita perhatian ejaan dan tanda baca yang tepat. Jika kita ingin menjadi penulis profesional maka sudah seharusnya kita belajar tata cara penulisan yang benar. Belajar kata baku, dan ejaan yang benar. Kita bisa melihat buku panduan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) dan kita juga bisa berpedoman kepada KBBI. Banyak media yang kita gunakan dalam belajar tata cara penulisan. Jadi tidak ada alasan untuk kita malas belajar tata cara penulisan yang benar.

Jika kita sudah menguasai ketujuh hal tersebut, maka kita akan mampu menjadi seorang penulis sejati.

Kesimpulannya mulailah dengan niat yang tulus, tetaplah komitmen dalam menulis, pupuk terus semangat kita dengan bergabung dengan dalam komunitas menulis. Perbanyak bacaan, kemudian tulislah dengan hati, dan teruslah belajar. 

Semangat berkarya. 
Semangat memberikan ilmu-ilmu bermanfaat melalui karya-karyamu.
 
Wassalam
Darma Aswita
24 Mei 2021
MBPN
Guru SD 04 Sikabu Kec.Lubuk Basung
Kab. Agam
Sumatera Barat

(Dikirim ke email saya: sahatnbh@gmail.com, pada hari Selasa, 25 Mei 2021, pukul 00.02 WIB)

Postingan Terbaru

Janji kepada Ilahi

Komitmen adalah janji. Janji yang seharusnya selalu ditepati. Tetapi seringkali komitmen hanya ilusi, hanya sebagai ucapan yang tidak diinga...

Postingan Terpopuler dalam sebulan ini