Komitmen adalah janji. Janji yang seharusnya selalu ditepati. Tetapi seringkali komitmen hanya ilusi, hanya sebagai ucapan yang tidak diingat lagi.
Setiap insan pasti pernah berjanji, terhadap sesama atau diri sendiri. Ketika berjanji, kita melakukannya dengan sepenuh hati, tetapi tidak dipungkiri kita sering ingkar menepati.
Salah satu komitmen untuk terus memperbaiki diri adalah janji, janji kepada Ilahi untuk menjadi manusia yang berarti. Tapi seiring berjalannya waktu janji itu menjadi sunyi, entah pergi kemana suaranya tidak terdengar lagi.
Kembali bangkit adalah pilihan paling berarti, kembali pada komitmen dalam menjalani hari demi hari. Tidak ada kata terlambat untuk kembali mengarungi, memperlengkapi diri demi meraih mimpi.
Mari pandang kembali, komitmen pribadi yang pernah terucap walau dalam hati. Rajut kembali semangat berapi-api, berjuang dan melangkah dengan pasti. Yang paling utama selalu meminta pertolongan dari Sang Ilahi untuk mampu mewujudkan janji.
(Ditulis pada tanggal 21 Februari 2023 pukul 12.00, disimpan sebagai draft tetapi baru dipublikasikan hari ini)
Hari ini kembali membuat komitmen baru, untuk kembali
Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan (1 Korintus 1:5)
(Sumber gambar: www.abbaloveministries.org)
Iman
dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Lantas, bagaimana hubungan iman dan ilmu pengetahuan bagi orang Kristen?
Bagaimana seharusnya kita memosisikan ilmu pengetahuan di dalam hidup orang
yang percaya kepada Tuhan?
Sebagai
orang Kristen, iman percaya merupakan tindakan penyangkalan diri, hal inilah
yangmembuat orang percaya tidak lagi
mengandalkan kebijaksanaan dan kekuatannya sendiri, tetapi melekatkan diri pada
kuasa dari Tuhan yang telah menciptakan seluruh alam semesta dan segala isinya.
Di dalam Ibrani 11 : 1 tertulis dengan jelas bahwa “Iman adalah dasar dari
segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita
lihat.” Artinya iman itu adalah pondasi bagi setiap aktifitas kehidupan orang
Kristen, termasuk dalam mempelajari alam semesta ini melalui ilmu pengetahuan.
Adapun
ilmu pengetahuan adalah tindak lanjut dari akal pikiran manusia. Seperti kita
ketahui bahwa dengan kemajuan ilmu pengetahuan, manusia dapat semakin memahami
fenomena-fenomena alam yang ada di dunia. Berkat ilmu pengetahun lahirlah penemuan-penemuan
baru yang berkontribusi positif bagi kehidupan umat manusia, seperti
dihasilkannya berbagai macam obat untuk menyembuhkan penyakit, semakin mudahnya
dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi melalui teknologi modern yang sudah
ada, akses transportasi yang semakin cepat baik melalui darat, laut dan udara,
dan banyak lagi kemajuan di bidang lain yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan.
Ilmu
pengetahuan memang banyak memberikan kemudahan dan membantu untuk mewujudkan
keinginan manusia, tetapi ilmu pengetahuan tidak bisa dan tidak akan pernah
mampu menjawab semua pertanyaan kita akan alam semesta. Hanya Tuhan yang bisa
memuaskan dahaga atas setiap pertanyaan yang tidak bisa diberikan ilmu
pengetahuan kepada manusia. Karena Tuhanlah yang telah menjadikan segala
sesuatu yang ada, bahkan yang tidak terlihat oleh mata kita sekalipun, itu
adalah ciptaan Tuhan. Termasuk ilmu pengetahuan ada karena Tuhan yang sudah
sediakan, manusia hanya bertugas untuk menggali dan menemukannya.
Pemahaman
bahwa Tuhan adalan sumber ilmu pengetahuan, akan membuat kita memosisikan ilmu
pengetahun berdasarkan iman kepada Tuhan, seperti yang tertulis di Amsal 1 : 7a
menyatakan bahwa “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan”. Setiap orang
yang ingin memiliki pengetahuan hendaknya memulainya dengan beriman kepada
Tuhan. Hal ini menegaskan bahwa bagi orang percaya, iman dan ilmu pengetahuan
tidak bertentangan, tetapi memiliki keterkaitan yang sangat erat, yakni iman
adalah dasar (awal) dari ilmu pengetahuan.
Semakin
mendalami ilmu pengetahuan, akan membuat kita semakin menyadari keagungan dan
kemahakuasaan Tuhan, kita akan semakin melihat kebesaran dan luar biasanya
hikmat dan kebijaksanaan-Nya yang tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia.
Hal inilah yang dinyatakan oleh James Prescott Joule, seorang ilmuwan fisika
perumus Hukum Kekekalan Energi dari Inggris. Joule yang terkenal akan kesabaran
dan kerendahan hatinya ini menyatakan bahwa “Keteraturan terlihat jelas di alam
semesta, seluruh sistem, bagaimanapun rumitnya, berjalan lancar dan serasi.
Karena seluruhnya diatur oleh kedaulatan Allah. Setelah mengetahui dan mematuhi
kehendak Allah, seharusnya tujuan kita berikutnya adalah mengenal kearifan,
kekuasaan serta kebaikan-Nya sebagaimana terlihat dari karya-Nya”.
Louis
Pasteur, seorang ahli Bakteriologi, pencetus Hukum Biogenesis, Pasteurisasi,
Vaksinasi dan Imunisasi asal Prancis juga menyatakan imannya kepada Tuhan.
Tokoh yang menentang teori Evolusi ini mengatakan “Semakin saya mempelajari
alam, semakin saya mengagumi karya Sang Pencipta, ilmu pengetahuan membawa
manusia lebih dekat kepada Allah”. Sebagai seorang ilmuan, Pasteur percaya
kepada Tuhan sebagai Pencipta segala makhluk hidup. Semasa hidupnya, ia memiliki
kerinduan yang sangat besar menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang,
salah satunya dengan menggunakan ilmu
pengetahuan yang dimilikinya untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit.
Dari
uraikan di atas, jelaslah bahwa iman dan ilmu pengetahuan merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ibarat sebuah pohon, iman adalah akarnya,
llmu adalah batang dan ranting-ranting pohon yang akan menghasilkan buah. Iman
menjadi dasar dari ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahunan akan memberikan
berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Dengan pemahaman ini, harapannya akan
mendorong kita untuk semakin bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu pengetahuan
dengan berlandaskan iman kepada Allah. Dan akhirnya, ilmu pengetahuan itu akan
menjadi media bagi kita untuk menjadi berkat, demi kemuliaan nama Tuhan. Amin.
Menciptakan Budaya Positif di di SMPN 2 Dolok Sigompulon
Budaya atau kultur adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi dan diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sedangkan Budaya positif adalah suatu pembiasaan yang bernilai positif, di dalamnya mengandung sejumlah kegiatan yang mampu menumbuhkan karakter yang baik. Budaya positif di sekolah sangat perlu dibangun karena dengan adanya budaya positif di sekolah akan membentuk peserta didik yang berkarakter dan mampu untuk menghadapi masa depan.
Budaya positif adalah suatu pembiasaan yang bernilai positif, di dalamnya berisi sejumlah kegiatan yang mampu menumbuhkan karakter Murid. Untuk mewujudkan budaya positif harus dilakukan sejak dini mengingat dalam prosesnya membutuhkan waktu yang lama dan konsisten dari setiap stakeholder yang ada. Sebagai calon guru penggerak, tentu memiliki peran yang besar dalam mewujudkan disiplin positif, baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah.
Di lingkungan sekolah, guru dapat menerapkan budaya positif seperti bekerja sama dengan rekan sejawat, berinteraksi secara akrab dengan peserta didik, menerapkan sikap disiplin dan bertanggung jawab serta menjadi teladan bagi peserta didik. Sedangkan di lingkungan kelas, guru dapat menumbuhkan disiplin positif yang dimulai dengan membuat keyakinan kelas.
Sebagai aksi nyata modul 1.4. penulis melakukan pengimbasan kepada rekan sejawat mengenai "Budaya Positif" yang didapatkannya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak khususnya dari Modul 1.4. Kegiatan ini diikuti oleh Kepala sekolah SMPN 2 Dolok Sigompulon, Bapak H.Mhd.Ramli Ritonga, S.Pd., Wakasek bidang Kurikulum, Bapak Alamsyah Daulay, S.Pd. beserta dewan guru lainnya.
Untuk membentuk budaya positif, sangat diharapkan peran guru. Karena guru merupakan kunci utama bagaimana disiplin positif bisa tumbuh dan menjadi budaya di sekolah. Karena itu diperlukan perubahan paradigma belajar para guru. Salah satunya adalah perubahan cara berpikir dari stimulus respon menjadi teori kontrol yang dikemukakan oleh Stephen R.Covey seperti yang dijelaskan di tabel berikut:
Guru diharapkan memahami bahwa pola pikir guru bisa mengontrol murid sepenuhnya adalah salah, karena peserta didiklah yang mengontrol dirinya sendiri, sehingga diperlukan pembelajaran yang berpihak pada murid. Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan
ada 3 alasan motivasi perilaku manusia:
1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Pada tingkatan ini peserta didik akan melakukan sesuatu karena takut dihukum, sehingga motivasinya bersifat negatif. Adapun motivasi ini tidak akan bertahan lama.
2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku
untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Pada tingkatan ini, motivasi peserta didik akan hilang ketika imbalan atau hadiah tidak ada lagi.
3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri
sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. (Motivasi intrinsik). Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang
seperti apa bila saya melakukannya?. Mereka termasuk peserta didik melakukan sesuatu karena
nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena
mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini
tersebut. Ini adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin
positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan
eksternal.
Guru diharapkan juga memahami bahwa setiap manusia termasuk peserta didik memiliki 5 Kebutuhan Dasar, yakni:
1. Kebutuhan Bertahan Hidup (Survival). Hal ini bersifat fisiologis seperti kesehatan, rumah, dan makan.
Komponen psikologisnya adalah merasa aman.
2. Kebutuhan akan Cinta dan Kasih Sayang (Love and Belonging). Ini disebut dengan kebutuhan psikologis, yang meliputi kebutuhan akan
koneksi sosial, memberi dan menerima kasih sayang, dan merasa menjadi bagian
atau tergabung dengan sebuah kelompok.
3. Kebutuhan akan Kebebasan (Freedom). Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kemandirian, memiliki pilihan
untuk mengatur hidupnya sendiri. Pada anak-anak, biasanya ingin banyak
bergerak, mengetahui hal baru, dan tidak ingin dipengaruhi orang lain
4. Kebutuhan mendapatkan Kesenangan (Fun). Hal ini membutuhkan rasa gembira, tertawa, dan bermain. Anak-anak
biasanya ingin menikmati apa yang mereka lakukan. Jika melakukan yang
disukainya, anak-anak bisa berkonsentrasi serius.
5. Kebutuhan akan Kekuasaan (Power). Dalam hal ini biasanya orang ingin dianggap berharga, mampu membuat
perbedaan, mendapat pengakuan orang lain, dan dihormati. Anak-anak yang seperti
ini biasanya ingin menjadi pemimpin.
Dalam hal ini ternyata melaksanakan pembelajaran di sekolah atau di kelas hendaknya mempertimbangkan 5 kebutuhan dasar di atas.
Adapun dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh guru, ada lima posisi kontrol Guru, yaitu:
1. Penghukum.
Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal.
2. Pembuat merasa
bersalah. Pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut.
yang biasa dilakukan pembuat merasa bersalah biasanya berceramah,
menunjukkan kekecewaan mendalam
3. Teman. Guru
pada posisi sebagai teman tidak akan menyakiti murid, namun selalu
berupaya mengontrol murid melalui pendekatan persuasi
4. Pemantau.
Guru pada posisi ini biasanya selalu mengawasi atau memantau muridnya yang
berpatokan pada catatan atau kesepakatan yang sudah disetujui. yang biasa
dilakukan posisi sebagai pemantau yaitu memantau, menghitung dan mengukur
kedisiplinan murid.
5. Manager. Guru
pada posisi ini biasanya posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama
dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya,
mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.
Yang dilakukan guru pada posisi manager biasanya mengajukan
pertanyaan-pertanyaan terkait nilai kebajikan yang telah diyakininya, atau
pertanyaan yang berkaitan dengan solusi yang ditempuh berkaitan dengan
pelanggaran tata terib.
Di dalam posisi kontrol manajer, murid oleh guru diajak mengevaluasi
diri bagaimana menjadi diri yang lebih baik, menganalisis kebutuhan dirinya,
dan menganalisis kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan
memberikan konsekuensi kepada murid, tetapi guru dapat berkolaborasi dengan
murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.
Hal yang juga penting adalah bagaimana menyelesaikan masalah peserta didik dengan menerapkan segitiga restitusi. Ada 3 tahapan segitiga restitusi yaitu: Menstabilkan identitas peserta didik, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan. Segitiga restitusi diterapkan untuk menguatkan karakter murid, dan mengembalikannya ke dalam kelompoknya, dan menjadikan peserta didik menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Langkah-langkah Segitiga Restitusi
Di dalam kelas langkah yang bisa dilakukan dalam menerapkan "Budaya Positif" adalah dengan pembentukan "Keyakinan kelas". Keyakinan kelas merupakan nilai-nilai postif yang disepakai bersama oleh para murid, kemudian dituliskan di kelas sebagai pengingat bahwa ada keyakina kelas yang supah mereka sepakati bersama.
Keyakinan kelas memiliki dampak yang besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Apabila guru dan murid membuat keyakinan kelas dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran, maka akan berpengaruh pada perubahan tingkah laku peserta didik. Perubahan tingkah laku ini juga akan berujung pada terbentuknya budaya positif di kelas.
Untuk itu, keyakinan yang baik tidak hanya digunakan dalam pembelajaran saja, namun perlu juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, untuk membangun budaya positif di sekolah langkah yang dapat ditempuh adalah memulainya dengan membangun budaya positif di kelas melalui komunikasi yang efektif.
Demikianlah Aksi Nyata Modul 1.4. ini penulis lakukan di SMPN 2 Dolok Sigompulon, dengan harapan aksi ini akan memberikan dampak dan bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tetap semangat berkarya bagi bangsa.
Menikmati setiap aktivitas yang dilakukan, itulah kunci dari Pak Gurdes untuk bisa melalui setiap kegiatannya sehari-hari. Seperti hari-hari sebelumnya, Pak Gurdes selalu berusaha menggunakan waktu yang ada dengan baik dan tentunya bermanfaat.
Bangun jam 5 pagi, jam setengah tujuh sudah harus berangkat menuju tempat pengabdiannya yang berjarak 32 kilometer dari tempat tinggalnya. Walau belum semua jalan yang dilaluinya beraspal mulus, tetapi Pak Gurdes selalu bersyukur, karena setidaknya jalan tersebut sudah semakin baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Saju jam diperjalanan sepertinya sudah biasa baginya, bahkan tadi pagi Pak Gurdes tiba-tiba tersadar dia sudah berada di desa menuju sekolahnya, karena memang sepanjang perjalanan yang dihiasi oleh pepohonan sawit dia memikirkan apa-apa saja yang harus dilakukannya selama di sekolah dan beberapa tugas lainnya yang harus dituntaskannya.
Malam ini Pak Gurdes mencoba merefleksi aktivitasnya hari ini. Apa yang menjadi hal yang cukup menarik yang bisa dibagikan di grup ini. Apakah kegiatan upacara, proses pembelajaran atau ketika mengajar les di rumah setelah dia pulang sekolah? Oh, ternyata bukan. Pak Gurdes lebih tertarik untuk berbagi mengenai cerita ketika mengikuti pembelajaran online tadi, tepatnya ketika diskusi mengenai visi dalam pembelajaran ruang kolaborasi Pendidikan Guru Penggerak yang dia ikuti.
Di awali dengan cerita mati lampu di rumah, yang mengharuskan Pak Gurdes harus berangkat menuju kota Rantauprapat, rencana mau ke kota, rupanya di tengah perjalanan Pak Gurdes melihat Rumah Makan (RM) Tesalonika buka dan sunyi pengunjung. Dia pun berinisiatif menelpon pemilik RM -dia panggil kak Tesa- tersebut yang kebetulan satu gereja dengannya untuk meminta izin, dan kak Tesa yang kebetulan tidak di RM tapi di rumah pribadinya memberikan izin dengan senang hati.
Di RM inilah pak Gurdes mengikuti pembelajaran melalui dunia maya dengan teman-teman CGP Kabupaten Padang Lawas Utara. Visi, inilah yang mereka bahas tadi. Ketika ditanya menerima visi, jawaban dari peserta yang berjumlah 6 orang dalam pembelajaran tersebut hampir sama, yakni: visi adalah mimpi, pandangan jauh ke depan, yang menggerakkan kita untuk tetap semangat melakukan tugas di tempat kerja.
Seberapa penting visi? "Sangat-sangat penting" itulah jawaban Pak Gurdes ketika Pak Fasilitator menanyakannya. Menurut Pak Gurdes tanpa visi pekerjaan kita tidak akan terarah, tidak ada fokus yang menggerakkan kita untuk tetap semangat dalam bertugas dan mengabdi, karena visi seperti bahan bakar yang akan terus menggelorakan semangat untuk mengabdi dengan tulus dan sepenuh hati.
"Bagaimana gambaran murid yang diharapkan di sekolah yang menjadi pembeda bagi sekolah lain?" Pertanyaan yang tersebut disampaikan oleh Bapak Fasilitator pada sesi bagian akhir materi. Pak Gurdes meng-unmute mikroponnya dan menyatakan bahwa dia menggambarkan kelak murid-muridnya yang dibimbingnya memiliki karakter, disiplin dan akhlak yang baik. Karena menurutnya itulah yang mendasari keberhasilan anak-anaknya di kemudian hari. Dia ingin melihat semua murid-muridnya yang ada di desa tertinggal tersebut bisa memiliki pola pikir yang luas dan bisa melanjutkan pendidikan ke kota dan nantinya kembali untuk membangun daerah tersebut.
Sejenak Pak Gurdes sempat berhenti berbicara, dan penuh dengan haru mengatakan bahwa visi itulah yang terus membakar semangatnya untuk berjuang dan bertahan selama 8 tahun di sekolah desa tersebut. Walaupun satu demi satu teman sepengangka tannya sudah pindah dan meninggalkan sekolah itu, tetapi Pak Gurdes tidak akan goyah, dan akan tetap semangat berjuang dan mengabdi, karena di sanalah Pak Gurdes yakin Tuhan menuntunnya untuk berkarya demi bangsa Indonesia...
Pastilah semua orang tua bangga melihat anaknya tampil.
Saya juga demikian, saya sangat senang dan bangga atas keikutsertaan gadis kecilku pada persiapan Natal di sekolahnya.
Adek El yang masih kelas 1 SD, terpilih bersama dengan teman-temannya dari berbagai tingkatan kelas. Dia berada di barisan paling depan, meniup pianika dan memainkan jari-jari tangannya.
Walau badannya yang paling kecil dari semua yang tampil, tapi dia tetap semangat.
Semangat selalu boru hasian, semakin berkembanglah kiranya bakat dan talentamu...
Berbagi adalah hal yang sangat menyenangkan. Dengan berbagi akan memberikan manfaat, bukan hanya kepada orang yang dibagi tetapi juga bagi yang berbagi. Apalagi hal yang dibagikan tersebut bermanfaat bagi banyak orang.
Terima kasih buat IKAPEL, sudah memberikan kesempatan bagi saya untuk berbagi, semoga sedikit yang sudah saya sampaikan, bisa bermanfaat bagi semua yang mengikuti pertemuan malam ini.
Harapannya, apa yang menjadi target dari program ini tercapai, yakni menerbitkan sebuah buku yang berisikan kumpulan "Praktek Baik Pembelajaran dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka". Dan semoga kelak buku itu bisa menjadi sumber inspirasi.
“Tujuan
pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka
dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat." (Ki
Hajar Dewantara)
Sebagai
seorang guru yang sudah mengajar selama 15 tahun, ternyata masih banyak
kekurangan yang perlu saya benahi dalam mendidik dan mengajar peserta didik. Saya
banyak dievaluasi dan ditegur ketika mempelajari modul 1.1. dari Pendidikan
Guru Penggerak (PGP) Angkatan 7. Yang mana modul ini membahas mengenai Refleksi
Filosofis Pendidikan Nasional, yang dikaitkan dengan pemikiran-pemikiran dari
Bapak Ki Hajar Dewantara.
Sebelum mempelajari
modul 1.1., dalam mengajar saya masih berpusat pada pikiran,
kemauan, kehendak saya sendiri. Mempersiapkan dan menyampaikan materi dengan
tujuan anak-anak bisa paham dan mendapatkan nilai yang baik (lulus KKM) ketika
penilaian dilakukan.
Dalam belajar saya
membuat sendiri aturan kelas selama pembelajaran, tidak ada kesepakatan kelas bersama
dengan murid, baik itu mengenai disipilin memulai dan mengakhiri pembelajaran,
pengerjaan dan pengumpulan tugas-tugas, penilaian, dan aturan-aturan lain di
dalam kelas.
Saya juga berusaha
sedemikian rupa agar semua materi dapat diajarkan kepada murid tanpa melihat karakteristik
murid, tidak ada juga refleksi mengenai pembelajaran yang dilakukan, yang
penting pada akhir semester semua materi tuntas dan segera membuat soal untuk
Penilaian Akhir Semester (PAS) untuk diujikan ke anak-anak.
Dalam pembelajaran saya
juga tidak mengakomodasi perbedaan yang dimiliki anak-anak. Saya berusaha
supaya murid memahami semua materi dengan menggunakan cara pembelajaran yang
sama, tidak memberikan kesempatan bagi murid untuk mengeksplorasi potensi dan
minat yang berbeda pada masing-masing anak.
Saya juga belum
mengaitkan pembelajaran dengan lingkungan murid berada, walaupun sudah
memanfaatkan laboratorium sebagai tempat belajar, saya belum pernah membuat
proyek pembelajaran yang sesuai dengan sosio-kultural di daerah murid tinggal.
Setelah mempelajari
modul 1.1. pola pikir dan perilaku saya banyak berubah. Saya
banyak mendapatkan pemahaman baru mengenai filosofis pendidikan dari
pemikiran-pemikiran Bapak Ki Hajar Dewantara, hal tersebut menegur dan
memperbaharui pola pikir dan perilaku saya sebagai guru.
Hal-hal yang diubah
dalam diri saya antara lain: Bagaimana memandang murid. Saya semakin
menyadari bahwa setiap murid memiliki kodrat masing-masing. Guru ibarat
seorang petani yang bertugas menebar benih dan memeliharanya, tidak bisa
mengubah jenis tanaman tersebut. Sehingga guru harus memahami karakteristik
setiap murid, tidak memaksakan kehendak sendiri untuk dilakukan murid. Juga
harus memberikan ruang bagi murid untuk mengeksplorasi potensi dan bakat yang
ada pada dirinya.
Saya juga diingatkan
untuk membuat kelas yang menyenangkan, sehingga murid merasa nyaman dan memiliki
antusiasme untuk mengikuti pembelajaran. Karena menurut Bapak Ki Hajar
Dewantara kelas adalah taman yang merupakan tempat yang memberikan rasa nyaman
untuk belajar dan bermain bagi murid.
Belajar juga harus memperhatikan
kodrat alam dan kodrat zaman. Hal ini juga
mengingatkan saya supaya benar-benar memperhatikan bagaimana kondisi tempat
tinggal murid berada, dan membuat strategi untuk menyesuaikan pembelajaran
dengan sosio-kultural di daerah saya mengajar. Selain itu, saya juga diingatkan
untuk mengajar sesuai dengan perkembangan zaman, dengan memanfaatkan Teknologi
Informasi dalam proses pembelajaran supaya murid mampu memiliki keterampilan Abad
21.
Hal lain yang menjadi
pemahaman baru bagi saya adalah trilogi semboyan Pendidikan dari Ki Hajar
Dewantara, yakni: Ing ngarso sung tulodho (di depan memberi teladan), ing
madya mangun karso (di tengah membangun semangat, kemauan), dan tut wuri
handayani (di belakang memberi dorongan). Seorang guru harus bisa menjadi
contoh (melaui Tindakan dan perkataan), menjadi pemberi semangat dan dorongan
bagi setiap murid. Dalam mendidik guru juga hendaknya menggunakan sistem
among, artinya guru itu menjaga, membina dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang.
Ki Hajar Dewantara juga
mengatakan bahwa “Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan
dalam masyarakat”. Beliau memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan
manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama
untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya
nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Sehingga Pendidikan
bukan hanya soal belajar untuk menjadikan murid pintar dan cerdas saja.
Budi pekerti, atau
watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan
kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat
diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga
menciptakan Karya (psikomotor). Keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik
untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Oleh sebab
itu, Peran orang tua sebagai guru, penuntun dan pemberi teladan menjadi sangat
penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.
Setelah mempelajari
Modul 1.1., yang akan saya lakukan di kelas yang
mencerminkan pemikiran Bapak Ki Hajar Dewantara adalah:
1. Menjadi role model di lingkungan sekolah dan masyarakat.
2. Belajar untuk memahami
karakteristik setiap murid.
3. Membuat kesepakatan
kelas berdasarkan kesepakatan bersama dengan murid.
4. Melaksanakan
pembelajaran yang berpusat pada murid. Pembelajaran yang menyenangkan dan
memberi ruang bagi setiap murid untuk mengekplorasi dan mengembangkan bakat dan
potensinya.
5. Menggunakan media
pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan antusias murid dalam belajar.
6. Menggunakan Teknologi
Informasi dalam proses pembelajaran.
7. Melakukan refleksi dalam
pembelajaran.
8. Membuat proyek
pembelajaran yang sesuai dengan sosio-kultural daerah tempat bertugas.
9. Menjalin komunikasi
dengan orang tua murid dalam memperhatikan perkembangan pengetahuan dan budi
pekerti murid.
Demikianlah Refleksi
Filosofis Pendidikan Nasional berdasarkan
pemikiran Ki Hajar Dewantara ini saya simpulkan, semoga saya mampu untuk
menerapkannya. Terima kasih.
Menulis bagi sebagian orang adalah hal yang tidak menarik, membosankan, dan sepertinya kegiatan ini adalah aktivitas orang yang kurang kerjaan. "Jangan hanya menulis saja kerjamu" Kalimat ini juga pernah sampai ke telinga saya, sebagai respon bahwa menulis sepertinya adalah hal yang tidak terlalu bermanfaat.
Pertanyaannya, apakah menulis benar-benar tidak bermanfaat? Atau menulis hanya kegiatan yang membuang-buang waktu saja? Saya bisa pastikan hal itu sangat-sangat salah. Justru kenyataanya, menulis memberikan manfaat yang begitu besar dalam meningkatkan berbagai kompetensi bahkan bisa mengubah hidup menjadi lebih kritis, terorganisir, dan semakin terarah.
Berawal dari masa pandemi Covid-19, yang melanda dunia dan akhirnya sampai ke negara kita. Banyak waktu luang di rumah, berbagai aktivitas ke luar pun dibatasi. Akhirnya saya mencoba untuk bergabung dengan pelatihan kepenulisan yang diadakan secara online melalui WhatsApp Grup. Pelatihan itu diprakarsai oleh PGRI Pusat, dalam hal ini dikomandoi oleh Bapak Wijaya Kusumah yang akrab dipanggil Om Jay.
Awalnya saya tidak pandai dalam merangkai kata, mungkin karena latar belakang pendidikan saya adalah Fisika non kependidikan, jurusan yang banyak bergelut dengan angka-angka dan rumus, sangat jarang bersentuhan dengan pembelajaran berbahasa atau tulis-menulis. Tetapi melalui proses, akhirnya saya lama-kelamaan terbiasa, bahkan sampai sekarang menulis sepertinya sudah menjadi suatu kebutuhan.
Apakah menulis harus langsung sempurna? Tentu tidak, semua perlu proses. Ketika awal belajar menulis, saya hanya bisa menuliskan resume (ringkasan) pertemuan pelatihan dengan beberapa kalimat saja. Memang ketika itu kami "dipaksa" untuk menulis resume setiap mengikuti pelatihan yang dilakukan tiga kali dalam seminggu. Sampai akhirnya, pertemuan ke-20 bisa saya lalui, dan resume selama 20 kali pertemuan bersama pegiat-pegiat literasi Indonesia tersebut, akhirnya menjadi buku solo perdana saya.
"Saya malu karena tulisan saya kan jelek, tidak berkualitas, sangat kaku, tidak ada bagusnya" Beberapa hal ini adalah wajar bagi pemula, tetapi itu harus dibuang, karena itu bisa membuat kita akhirnya mundur, dan berhenti menulis. Semua pasti melalui proses, penulis hebat saat ini pastilah dulu juga mengalaminya, ketika dia mulai belajar menulis. Tetapi akhirnya mereka terus belajar, tidak menghiraukan respon negatif dan cibiran-cibiran yang bisa membuat nyali mereka ciut.
Kembali ke pertanyaan sekaligus judul di atas, menulis untuk apa? Tentu saja untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas hidup orang yang menggelutinya. Saya yang dulunya banyak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna, akhirnya berkat menulis semakin menyadari bahwa waktu hidup saya terbatas, saya harus menulis dan berbagi ilmu dan kebaikan sebanyak-banyaknya melalui tulisan-tulisan yang ada. Suatu saat kita akan tiada, tetapi tulisan akan tetap abadi, memberikan dampak bagi setiap pembacanya.
Tidak ada lagi waktu berleha-leha, tidak ada lagi waktu yang sia-sia. Semakin sibuk semakin bisa mengatur waktu sedemikian rupa. Itulah dampak yang sangat-sangat saya rasakan saat ini. Ditambah lagi dengan giat menulis, membuat wawasan semakin berkembang, hal ini karena kegiatan menulis memaksa untuk banyak membaca karya dari para penulis lainnya.
Lebih fokus untuk belajar menjadi berkat bagi orang lain. Ya, dengan aktif menulis, saya semakin manyadari bahwa hidup harus bisa berdampak dan memberikan manfaat bagi orang lain. Bukan lagi hanya memilirkan diri sendiri. Belajar terus berbagi dan saling memotivasi, dengan harapan semakin banyak orang yang bisa menghasilkan berbagai karya, yang tentunya itu akan berdampak bagi kemajuan bangsa.
Terima kasih buat hari ini. Kesempatan yang Tuhan beri kembali untuk berbagi. Bagi calon-calon pembaharu negeri. Semoga sedikit motivasi, bisa menggerakkan setiap pribadi, untuk mau memberi diri. Giat berkarya bagi negeri, menjadi pegiat-pegiat literasi
Sebagai penutup, saya kembali menyampaikan bahwa giat menulis tidak ada ruginya, yang ada adalah kita rugi kalau tidak mau menulis. Semangat
"Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?" Kalimat ini memiliki makna yang sangat mendalam. Kalimat dari seorang ulama besar yang telah tiada, tetapi kata-katanya akan terus menggema, menjadi sumber inspirasi bagi setiap orang yang membacanya.
Umur atau usia tidak akan pernah menetap, akan selalu berjalan linier, bertambah, dan terus bertambah. Kita hanya tinggal menunggu waktu, pastilah akan ada masanya kita akan menua dan menjadi tidak berdaya.
Menjalani tahapan jenjang kehidupan adalah fakta yang tidak bisa dilawan. Bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia adalah takdir. Tidak akan selamanya menjadi anak-anak. Kelak akan berkeluarga, punya anak, punya cucu, sampai akhirnya wajah akan dipenuhi oleh kerutan-kerutan.
Ulang tahun adalah pertanda, sebuah alarm, bahwa satu tahun perjalanan telah berlalu. Usia semakin bertambah, berarti usia tua semakin mendekat. Kembali pertanyaan itu muncul, "Apakah makna waktu yang sudah kujalani selama ini?"
Seperti kalimat yang pernah saya baca, "Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain." Lantas apakah aku sudah bermanfaat, atau justru hanya memikirkan kehidupanku yang sesaat?
Waktu tidak pernah akan berulang, karena masa lalu hanya akan menjadi kenangan, juga menjadi sebuah pembelajaran. Waktu saat inilah yang akan menentukan, apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Saat ini, ya detik ini juga. Bukan besok atau lusa yang menentukan, apakah hidup bermakna bagi banyak orang. Ketika ada karya yang bisa dilakukan sekarang, ayo segera laksanakan, walaupun mungkin hal itu sangat kecil, dan sepertinya dipandang sebelah mata oleh orang-orang.
Hidup hendaknya berkarya. Berkarya berarti menghasilkan sesuatu, bukan hanya dalam angan-angan. Sesuatu yang tentunya diharapkan, yang berguna bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi berguna untuk memotivasi dan menginspirasi sekeliling.
Saya hanya bisa berkarya sederhana. Sesederhana tulisan ini. Karya saya bukanlah hal yang luar biasa, tetapi berharap akan bertahan untuk selamanya. Dengan cara apa? Salah satunya dengan selalu menulis. Menuliskan hal-hal yang ada di dalam hati, di pikiran, untuk segera dibagikan.
Apa gunanya? Mungkin saat ini tidak berguna apa-apa. Tapi saya yakin, suatu saat tulisan-tulisan itu akan membangkitkan jiwa, menyemangati orang yang sedang putus asa, sehingga orang yang lesu akan kembali bergairah dalam menjalani kehidupan. Memiliki pengharapan dan kekuatan.
Menulis adalah pekerjaan yang terlihat sepele, tetapi lihatlah kata bijak di awal tulisan ini. Kata bijak yang dituliskan puluhan tahun yang lalu, bahkan penulisnya sekarang telah tiada, tetapi kata-katanya tetap hidup dan memberikan semangat, walau tanpa suara.
Saya akan terus berjuang, terus berusaha dengan segala kekurangan. Mencatatkan hal-hal yang ingin kutuliskan, bukan sekedar menyimpannya di dalam pikiran. Karena saya yakin tulisan bisa mengubah kehidupan seseorang, mengubah arah hidup di dalam keheningan.
Terima kasih Tuhan, buat setiap kesempatan yang Kau limpahkan. Hari ini masih ada kehidupan, masih ada kekuatan untuk menggerakkan tangan, dan menuliskan catatan kecil di hari yang penuh kebahagiaan. Hari bersejarah yang menandakan, usiaku hari ini tepat tiga puluh delapan.
Hanya doa yang kunaikkan, semoga Tuhan berkenan memberikan umur panjang. Kiranya Tuhan selalu kuatkan dalam menggoreskan setiap tulisan, dengan satu harapan, semua karya itu berkenan, untuk mengakui kebesaran dan keagungan-Mu ya Tuhan.
Manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang pasti bergantung kepada orang lain. Tidak mungkin manusia bisa hidup menyendiri, pastilah membutuhkan bantuan dari pihak lain.
Secara manusiawi, sisi ego pada manusia juga sering muncul. Ingin dimengerti, ingin dihargai, ingin diperhatikan, sampai pada ingin memiliki nilai lebih dari orang lain adalah kebutuhan mendasar yang dimiliki setiap orang.
Menghadapi situasi tersebut, diperlukan kematangan emosi untuk bisa menguasai diri. Bila saling mengikuti ego masing-masing tanpa empati pada orang lain, maka tidak akan ada titik temu. Hal itu bisa menjadi bibit dari pertikaian.
Bagaimana menyatukan berbagai kebutuhan mendasar di atas, ditambah lagi dengan berbagai karakter dan pemikiran yang berbeda? Tentulah dengan adanya kerendahan hati. Prinsip yang mau mengalah demi kepentingan orang lain, adalah salah satu contohnya.
Pada masa ini, konfrontasi atau sikap yang selalu bertentangan dengan orang lain, merasa hebat hebat, mau menang sendiri, ingin keinginannya saja yang terkabul, bukanlah hal yang cocok untuk diikuti.
Seharusnya konfrontasi sudah tidak zamannya lagi. Sekarang zamannya saling berkolaborasi, bekerja sama, walaupun dengan berbagai perbedaan yang dimiliki. Dengan kolaborasi akan memudahkan untuk mencapai tujuan bersama.
Semua manusia memiliki sifat, karakter, keinginan, kemampuan, dan latar belakang kehidupan yang berbeda. Tidak ada gunanya saling memojokkan dan berkonfrontasi, karena tidak akan memberikan manfaat apapun.
Tetapi dengan berkolaborasi akan terjalin persahabatan, kekompakan, kerjasama, dan saling menghargai antar umat manusia untuk memberikan manfaat bagi semua mahkluk di dunia.
Sore menjelang malam tadi, aku menerima panggilan video. Panggilan dari nomor baru yang belum tersimpan di HP-ku. Awalnya agak bertanya-tanya siapa gerangan menelpon, tapi akhirnya kuangkat juga.
Tiba-tiba dari seberang muncul sosok yang tidak asing lagi, wajah ibu yang sangat kusayang. Dengan ceria, omak -sebutan kami untuk ibu- menebarkan senyum sambil menanyakan kabar kami. Kebetulan saya tadi sedang di rumah sendiri karena istri dan anak-anak pergi ke luar menikmati suasana sore hari.
Omak begitu semangat bercerita, khususnya menceritakan HP barunya, yang baru dibelikan oleh adikku Boho NAibaho. Sekarang omak sudah punya android sehingga bisa video call dengan kami anak-anaknya. Selama ini memang kalau ingin menelpon WA kami hanya bisa melalui HP Android bapak sedangkan omak dulu hanya bisa menerima telepon biasa.
Sekitar setangah jam kami bercerita, juga ada bapak yang suaranya beberapa kali menyahut ceritaku bersama omak. Hatiku terharu melihat semangat dan sukacita yang mereka rasakan, khusus omak yang sangat bersyukur atas berkat-berkat Tuhan yang sudah dilimpahkan-Nya buat keluarga kami.
"Perjuangan kami tidak sia-sia pa, kalian semua sudah berhasil dan mandiri," itulah salah satu kalimat yang disampaikan omak tadi. Memang benar, kami merasakan bahwa semua hanya karena berkat Tuhan. Kami 7 bersaudara semuanya dikuliahkan bapak dan omak hanya dengan bermodalkan jerih lelah sebagai petani dan usaha menjahit pakaian yang mereka tekuni bersama-sama.
Sekarang mereka berdua -omak dan bapak- sudah tua, kiranya omak dan bapak selalu dalam lindungan Sang Pencipta. Hanya doa yang bisa selalu kami naikkan supaya omak dan bapak sehat selalu, ada waktunya nanti kita semua berkumpul bersama dalam suka cita dan kebahagiaan yang tak terhingga.
Ala bisa karena biasa. Sebuah kata bijak yang sudah tidak asing lagi, sudah sangat sering kita dengar, bahkan mungkin kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap orang yang sudah ahli pastilah karena sudah melewati proses panjang. Itu sudah pasti dalam semua bidang kehidupan. Seorang pilot atau nakhoda yang sudah berpengalaman dengan tenang akan mengendarai pesawat atau kapalnya, walaupun ada berbagai kondisi yang genting, karena sudah biasa melaluinya.
Hari ini, saya mengamini kata bijak di atas. Karena pengalaman yang sudah sering melewati jalan penuh dengan genangan air menuju sekolah, tidak pernah membuat gentar atau takut jatuh di tengah-tengah genangan air yang ada di beberapa titik di sepanjang jalan.
Memang, selama musim penghujan, sepanjang jalan menuju sekolah desa tempat saya mengajar penuh dengan genangan air. Setidaknya ada 7 titik genangan air yang lumayan parah, sampai menutupi seluruh badan jalan. Bagi orang yang pertama kali melewatinya pastilah ketar-ketir untuk melewatinya.
Seperti yang saya sampaikan bahwa kebiasaan melewati jalan setiap hari membuat saya hapal betul dimana bagian yang rendah atau yang berbatu di sepanjang jalan yang tergenang air tersebut.
Pada titik yang satu kita harus lewat sebelah kanan jalan, dan pada titik genangan yang lain kita harus melewatinya tepat di bagian tengah jalan. Demikian juga titik-titik genangan lain memiliki cara tersendiri untuk melaluinya.
Walaupun tidak bisa melihat bagaimana kondisi jalan yang ditutupi air, bagaimana kedalaman atau apakah ada batu besar di dalam air, tapi karena sudah biasa hal itu tidak jadi masalah, jalan bisa dilalui dengan penuh keyakinan.
Tepatlah kata bijak di atas yang berbunyi "Ala bisa karena biasa." Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap hari akan mempersiapkan kita untuk menghadapi berbagai masalah yang akan datang.
Semua perlu proses. Setiap pengalaman adalah Guru yang terbaik,sebagai pemandu untuk melangkah dalam menggapai setiap tujuan yang kita harapkan
Semua Organ tubuh manusia bekerja dalam mendukung kehidupan. Setiap hari organ-organ tubuh kita melaksanakan fungsi kerjanya masing-masing.
Tetapi, bukan berarti setiap organ bekerja maksimal setiap saat. Ada kalanya suatu organ bekerja dengan keras, ada kalanya organ tersebut melemah dan bekerja biasa, itulah yang dijelaskan dalam buku "Jam Piket Organ Tubuh" yang ditulis oleh Adi D.Tilong ini.
Hal ini sangat perlu kita ketahui demi menjalankan pola hidup sehat, tentunya demi mencegah berbagai penyakit yang bisa muncul karena tidak menyesuaikan aktivitas kita dengan kondisi kerja organ tubuh.
Misalnya Usus Besar, berkontraksi jam 05.00-07.00 pagi. Pada saat inilah organ ini bekerja maksimal setelah 22 jam bekerja bekerja agak lemah. Disarankan pada jam inilah waktu yang tepat untuk buang air besar secara teratur.
Beda lagi dengan Lambung. Organ ini melakukan kerja dengan 3 kondisi, bekerja dengan keras (maksimal), lemah, dan biasa. Lambung bekerja dengan maksimal sekitar pukul 07.00-09.00. Sedangkan pada jam 19.00-21.00, kerja lambung melemah. Selain jam itu, lambung bekerja biasa.
Sebaiknya, sarapanlah dengan makanan sehat pada pagi saat lambung kerja maksimal, sehingga energi akan terbentuk dengan sempurna. Sedangkan pada saat lambung melemah, hindari mengonsumsi makanan yang sulit dicerna.
Organ Ginjal juga memiliki jam piket. Pada jam 17.00-19.00 organ ini bekerja dengan maksimal, sedangkan sisanya ginjal bekerja lemah. Pada saat ginjal bekerja keras, organ ini melakukan proses pembentukan sumsum tulang dan otak, sehingga baik untuk kecerdasan. Maka, waktu ini sangat cocok digunakan untuk belajar.
Jam piket organ Hati juga berbeda. Sekitar jam 01.00-03.00, organ hati bekerja keras dalam proses pembuangan racun atau limbah hasil metabolisme. Kemudian jam 13.00-15.00, organ Hati melemah. Pada waktu ini dianjurkan untuk istrirahat, untuk menghindari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh hati yang lemah.
Untuk Jantung, yang perlu diketahui adalah organ ini akan melemah pada jam 23.00-01.00, sehingga sangat disarankan untuk beristirahat pada jam tersebut. Hal tersebut untuk menghindari fungsi jantung menjadi melemah.
Organ-organ di atas hanya beberapa contoh dari jam piket organ tubuh kita. Pastinya setiap organ tubuh kita memiliki jam kerja masing-masing.
Ingat, organ tubuh kita bukan mesin yang bisa bekerja sepanjang waktu, sehingga kita sangat perlu untuk memperhatikannya.