Selasa, 23 Februari 2021
Menulis Semudah Ceplok Telur
Jumat, 19 Februari 2021
Peran orangtua bagi kehidupan anak-anaknya
Orangtua, baik itu ayah atau ibu merupakan figur yang sangat mempengaruhi bahkan menentukan bagaimana kelak kehidupan dari anak-anaknya. Bagaimanapun juga orang tua harus menyadari hal itu. Bukan hanya menyadari tetapi berusaha dengan terus belajar untuk memaksimalkan perannya dalam membimbing anak-anaknya apalagi dengan tantangan perkembangan zaman yang terjadi saat ini.
Setidaknya hal yang pertama dibangun adalah kesadaran bahwa orangtua merupakan sosok yang utama yang bisa mempengaruhi dan mengarahkan anak-anaknya dalam menggapai kehidupan yang diimpikan, dalam hal ini pastilah tidak ada orangtua yang ingin anaknya mengalami kegagalan atau pun kehidupan yang tidak baik pada masa yang akan datang.
Walaupun kita sadari hal itu tudak mudah, apalagi dengan berbagai kemajuan zaman saat ini. Kadang orangtua bingung dengan tingkah dan perilaku anak-anak yang sudah sangat dipengaruhi oleh dunia yang canggih saat ini. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dunia mereka sudah berbeda dengan dunia orangtuanya, orangtua sudah tertinggal jauh dalam hal pemahaman dan penguasaan akan berbagai alat modern sekarang ini, khususnya handphone yang sering disebut sekarang dengan smartphone (telepon pintar) dengan berbagai aplikasi yanga ada di dalamnya.
Lantas apakah kita sebagai orang tua menyerah dan tidak mau berusaha untuk "menyelamatkan" anak-anak kita dari sergapan kemajuan zaman saat ini? Tentunya tidak. Sebagai orangtua kita sangat menyayangi dan merindukan kehidupan yang lebih baik yang akan dirasakan oleh anak-anak kita. Sehingga diperlukan suatu kesungguhan hati, dan bukan hanya kesungguhan hati tetapi berusaha dengan berbagai cara supaya anak-anak bisa selamat dan mencapai kesuksesan di masa yang akan datang.
Bagaimana caranya? Memang kita tidak akan mampu mengikuti dan memahami semua perkembangan zaman saat ini seperti yang dilakukan anak-anak kita. Tetapi ada satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasinya. Apa itu? Komunikasi, ya komunikasilah satu-satunya cara yang ampuh dan menjadi senjata yang bisa digunakan untuk melindungi mereka dari cengkeraman dunia saat ini. Bukan sekedar komunikasi yang biasa-biasa saja, tetapi komunikasi yang intim. Intim berarti erat, dekat, terbuka dan tentu saja ada kenyamanan.
Dengan menjalin komunikasi yang intim antara orangtua dengan anak, maka bisa menutup celah kejatuhan anak kapada hal-hal yang tidak kita inginkan. Ketika komunikasi terjalin dengan baik, anak akan nyaman dan menjadikan orangtuanya sebagai tempat utama dalam mengutarakan isi hati dan segala kegelisahannya. Tidak ada lagi hal yang ditutup-tutupinya ketika sosok orangtua sudah menjadi seorang sahabat terbaik baginya.
Komunikasi yang baik adalah komunikasi dua arah, tentunya diharapakan ada waktu kita mendengar dengan baik semua curhat anak, dan ada waktunya kita juga menyampaikan curhat dan nasihat kita kepadanya. Orangtua curhat kepada anak? Ya, sangat perlu. Dengan memposisikan anak juga sebagai sahabat, maka orang tua tidak harus selalu memposisikan diri di atas anak, merasa lebih segalanya sehingga hanya bisa memberikan nasihat dan perintah-perintah yang kadang itu membosankan bagi anak zaman now. Diperlukan suatu cara bercerita sebagaimana seorang teman curhat, sehingga anak memiliki tempat berdiskusi dan saling berbagi. Hal itu akan menimbulkan kedekatan emosional antara anak dengan orangtuanya.
Banyak hal memang yang harus diperhatikan orangtua bagi anak-anaknya. Supaya komunikasi senantiasa dapat terjalin dengan baik, hendaknya jangan ada kata-kata yang bisa menyakiti anak. Perkataan negatif, seperti: bodoh, tidak tahu apa-apa, atau perkataan kasar lainnya yang tidak layak untuk dikatakan. Karena ketika itu keluar dari mulut, hati anak bisa saja terluka dan tidak lagi respect kepada kita walaupun dia tidak menyampaikannya secara langsung. Bisa saja itu menjadi akar pahit di dalam dirinya yang akan selalu diingatnya.
Biasakanlah berkata hal-hal yang positif kepada anak, memuji dan memotivasi sehingga akan menimbulkan kenyamanan baginya, dan tentunya akan menumbuhkan kreativitas dalam dirinya berkat pujian dan motivasi yang ada.
Pertanyaan yang muncul, apakah kita bisa memarahi anak? Tentu saja bisa, tetapi bukan dengan marah yang emosinal yang tidak terkontrol, setelah marah cobalah sampaikan alasan mengapa kita memarahinya dengan melakukan pendekatan pribadi. Di dalam menegur anak diperlukan juga cara khusus dengan berusaha mengajak bercerita dari hati ke hati, tanyakan mengapa dia berbuat demikian dan sampaikan hal-hal yang perlu diperbaiki dan dikoreksi darinya dikemudian hari.
Bagaimana kalau emosi kita sudah sempat tidak tertahankan ketika memarahinya? Tentu saja itu bisa terjadi. Ketika terjadi berusaha untuk kembali mengelola emosi, dan sebisa mungkin mencari waktu yang tepat ketika kita dan anak dalam kondisi tenang untuk berkomunikasi dengannya. Sampaikan alasan kemarahan dan meminta maaf kepadanya, dan meminta dia juga untuk menyadari dan menyesali kesalahan yang dia lakukan. Intinya memang jangan sampai amarah kita terekam dan tersimpan di dalam hati anak dalam jangka waktu yang lama. Harus ada "perdamaian" yang dilakukan secepat mungkin.
Hal yang terakhir dan mungkin berat bagi orangtua adalah menjadi figur yang dibanggakan dan didambakan oleh anak-anak. Orangtua yang menjadi sosok yang bisa diteladani dalam berbagai aspek, di percayai dan disenangi. Sehingga apa yang kita sampaikan bisa diterimanya karena memang kita sudah menjadi sosok yang dia segani dan hormati.
Sulit memang melakukan hal-hal di atas, menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari tidak semudah mengatakannya, tetapi sebagai orangtua kita harus tetap berusaha. Dengan terus belajar menjadi orang tua yang didamba, karena bagaimanapun masa depan anak-anak kita sangat dipengaruhi bagaimana kita memperlakukan mereka...
Rabu, 17 Februari 2021
Guru Desa, Semangat Berkarya !!!
Sebagai seorang guru desa, saya tidak pernah berkecil hati. Ditempatkan di sebuah sekolah di desa tertinggal, tepatnya di Desa Simundol, Kec. Dolok Sigompulon, Kab. Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Ya, disanalah saya mengabdi sejak ditempatkan oleh Pemkab Paluta, ketika saya lulus tes CPNS tahun 2013 yang lalu.
Sejak Oktober 2014, saya memulai pengalaman baru menjadi seorang pendidik di sebuah sekolah yang berada di pelosok. Sebelumnya saya memang sudah mengajar selama 5 tahun di sekolah yang berada di kota Medan, dan saat ini saya harus terjun dan menyatu dengan alam yang sejuk, di sekolah desa yang jauh dari kebisingan kota.
Sudah 6 tahun lebih saya mengajar di sekolah bernama SMPN 2 Dolok Sigompulon ini. Banyak hal baru yang saya alami. Suka duka dan pengalaman yang begitu mengesankan mulai dari melewati medan yang parah khususnya di awal penempatan sampai pada berjumpa dan berbaur dengan masyarakat asli penduduk daerah tersebut. Awalnya ada kecanggungan karena perbedaan yang ada, tetapi akhirnya bisa akrab dan merasakan kerbersamaan dengan siswa-siswa, khususnya para guru yang sudah saya anggap sebagai keluarga.
Menjadi Guru Desa. Suatu impian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, apalagi guru di desa yang jauh dari tempat asal, sehingga dituntut untuk belajar berbagai hal. Belajar dengan budaya setempat dan bergaul dengan keberagaman yang ada, menunjukkan betapa kayanya Indonesia Raya, negara tercinta. Tepatlah semboyan negara kita, Bhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu juga.
Guru desa, identik dengan keterbelakangan dan ketertinggalan. Guru desa identik dengan keterlambatan informasi. Tetapi itu hanyalah persepsi semata. Sebagai guru desa saya tetap berjuang untuk memperlengkapi diri dan berusaha untuk mengikuti perkembangan informasi, walaupun tidak seutuhnya bisa mengikuti. Minimal tidak tertinggal jauh dari guru-guru yang sudah melek teknologi.
Walaupun mengabdi di kampung, bukan berarti gurunya ikut kampungan. Bukan berarti guru desa selalu kalah kualitasnya dari guru kota. Terus belajar dan tentunya berjuang menghasilkan karya-karya, itulah kuncinya. Karena dengan karya maka kita akan bisa berdampak dan bermanfaat bagi sesama.
Berusaha mengejar ketertinggalan, dengan berusaha berlari walaupun kadang harus tertatih-tatih. Semangat tidak boleh pudar, sepanjang hayat masih di kandung badan...
Kamis, 11 Februari 2021
3 Cara Praktis Menjadi Penulis BUKU (Solo)
Menjadi penulis buku tidaklah pernah terpikirkan sebelumnya, tetapi seiring dengan berjalannya waktu membawa saya kepada dunia literasi, suatu dunia yang awalnya tidak terlalu disukai tetapi akhirnya sekarang menjadi aktivitas sehari-hari.
Apalagi selama masa pandemi Covid-19 melanda dunia yang mengharuskan banyak aktivitas termasuk bekerja dilakukan dari rumah, sehingga semakin banyak waktu luang yang dimiliki, tentunya hal ini sangat jarang kita dapatkan ketika masa-masa sebelum pandemi terjadi.
Memanfaatkan waktu luang dengan mencoba terjun dalam dunia literasi, ternyata memberikan dampak yang luar biasa. Banyak manfaat yang diperoleh, salah satunya dapat menerbitkan buku (baik buku solo maupun buku bersama). Hal yang tidak pernah terpikirkan, jangankan berkeinginan menghasilkan karya buku, sedikit pun dulu tidak pernah terbersit akan menjadi seorang penulis.
Dari pengalaman yang saya peroleh sejak terlibat dalam dunia tulis-menulis sejak 10 Juni 2020, setidaknya saya akan berbagi pengalaman terkait cara menghasilkan karya buku, dalam hal ini adalah buku solo (sendiri) bukan buku antologi (bersama).
Karena bagaimanapun pasti ada tantangan tersendiri yang kita akan dihadapi dalam menghasilkan buku solo, karena semua tulisan yang ada di buku tersebut merupakan tulisan kita sendiri, berbeda dengan buku antologi yang penulisnya bisa sampai puluhan penulis dalam satu buku.
Berikut ini ada 3 cara yang bisa kita lakukan ketika hendak menghasilkan karya buku sendiri, yakni:
1. Menggabungkan tulisan-tulisan yang sudah ada.
Ya, inilah cara yang termudah dalam menghasilkan karya buku. Dengan memeriksa kembali tulisan yang pernah kita tulis, baik itu yang pernah kita bagikan di blog, fb, dan media sosial lainnya, atau juga yang kita simpan dalam bentuk Ms.Word. Setelah mengecek kemudian pilihlah tulisan-tulisan dengan tema yang sama atau berkaitan satu dengan yang lain. Misalnya apabila ingin menulis buku tentang pendidikan, maka tentulah tulisan-tulisan yang menyinggung tentang pendidikan yang kita ambil kemudian disatukan di media pengolah kata seperti Ms.Word.
Setelah lengkap, tinggal menyusun urutan-urutan naskah dan menambahkan tulisan pendamping buku berupa: Kata Pengantar, Endorsement, Persembahan, Kata Sambutan, Prakata, Daftar Isi, dan yang lainnya. Setelah itu tinggal mengirimkan ke pihak penerbit. Mudah kan................
Cara ini yang sudah saya terapkan dalam menghasilkan karya perdana saya, yang merupakan resume pembelajaran menulis secara online melalui WA Grup bersama Om Jay-PGRI Pusat.
2. Merancang tulisan dari nol
Mengapa saya menyatakan merancang dari nol? Karena cara kedua ini memang akan menghasilkan karya buku solo dari awal, mulai dari menentukan tema, kemudian membuat outline tulisan, membuat jadwal dan kemudian menulis naskah.
Yang pertama sekali memang kita tentukan terlebih dahulu tema dan topik apa yang akan ditulis, pada saat itu juga kita sudah harus menentukan golongan/kelompok pembaca mana yang akan kita tuju, baik itu berdasarkan pendidikan, usia, jenis kelamin, latar belakang atau pertimbangan-pertimbangan lainnnya. Setelah tema, topik dan kelompok mana yang akan disasar oleh tulisan, maka perlu dibuat outline tulisan, yang merupakan penjabaran dari topik yang ditetapkan bisa dalam bentuk bab buku.
Ketika outline sudah selesai, maka buatlah jadwal penulisan dari bab-bab yang telah ditetapkan, hal ini perlu supaya penulisan naskah bisa berjalan dengan baik dan selesai sesuai dengan target yang sudah ditetapkan, kalau pun tidak sesuai waktu yang ada paling tidak sebagai pengingat yang akan memotivasi kita untuk menyelesaikan tulisan tersebut. Setelah semua naskah selesai lengkapilah dengan tulisan pendamping buku, kemudian ajukan ke penerbit untuk di cetak.
Cara kedua ini sangat baik dilakukan kerena semuanya direncanakan dari awal, tetapi membutuhkan waktu yang lebih lama dalam menerbitkan buku dibanding cara yang partama. Dan cara ini sedang saya lakukan untuk rencana penerbitan buku solo saya yang ketiga.
3. Gabungan cara pertama dan kedua
Satu lagi cara supaya kita dapat menghasilkan buku adalah dengan menggabungkan cara pertama dan kedua di atas. Kita tentukan tema dan topik yang akan dibukukan dan buat outline tulisan, kemudian periksalah tulisan-tulisan yang sudah pernah ditulis yang berkaitan dengan topik tersebut, masukkan tulisan-tulisan tersebut di draft buku yang akan disusun, sedangkan untuk naskah bab buku yang belum ada sama sekali bisa kita tulis dan tentunya dengan membuat jadwal penulisan juga.
Sama seperti dua cara di atas, setelah semua naskah selesai baru lengkapilah tulisan pendamping buku, kemudian ajukan ke penerbit untuk di cetak.
Cara inilah yang saya terapkan dalam menulis buku solo kedua saya berikut ini:
Untuk ketiga cara di atas tentukanlah judul buku yang menarik dan tentunya sesuai dengan muatan tulisan yang kita hasilkan. Judul buku bisa ditetapkan di awal, pertengahan atau di akhir penulisan naskah, karena bisa saja ada ide terkait judul yang muncul seiring dengan penulisan buku, tetapi tentunya judul jangan muncul setelah buku terbit ya... Hehehehe...
Oh iya, jangan lupa juga melakukan editing semua naskah sebelum di sampaikan ke penerbit ya, cek lagi kata demi kata, kalimat sampai susunan naskah pada buku yang akan dicetak.
Demikian sedikit pengalaman saya dalam menerbitkan buku solo, semoga bisa memberikan sedikit gambaran bagi kita yang tertarik dalam menulis sampai akhirnya memiliki buku karya sendiri....
Semangat,
Mari Berkarya dan Teruslah Berkarya....
Postingan Terbaru
Janji kepada Ilahi
Komitmen adalah janji. Janji yang seharusnya selalu ditepati. Tetapi seringkali komitmen hanya ilusi, hanya sebagai ucapan yang tidak diinga...
Postingan Terpopuler dalam sebulan ini
-
Setelah hampir seminggu Pak Gurdes fokus dalam mendampingi putra kesayangannya Rido yang harus menjalani operasi ringan di telapak kakinya, ...
-
Malam ini saya sangat berbahagia, bahagia bukan karena bunyi sms banking , atau mendapat hadiah spesial dari seseorang, tetapi bahagia karen...
-
Ruang Kelas Menulis Buku Inspirasi pada malam hari ini terasa berbeda dari sebelumnya, pada pembelajaran kali ini sangat kental dengan keber...







